Bulan Muharram adalah salah satu di antara bulan-bulan mulia, atau asyhurul hurum (bulan-bulan haram) bersama bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab (HR. Bukhari No. 3025). Sejarah dinamakan bulan haram, karena pada masa jahiliyah dan awal Islam bulan-bulan ini diharamkan berperang. Selain itu, secara khusus Allah Swt. mengharamkan kezaliman di bulan-bulan haram: “Janganlah kamu melakukan kezaliman atas dirimu di bulan-bulan itu.” (QS. At Taubah: 36). Oleh karena itu segala aktivitas maksiat dilipatgandakan bobot dosanya sebagaimana jika dilakukan di tanah haram. (Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/148). Selain itu, Rasulullah saw. memuji bulan Muharram sebagai syahrullah (bulannya Allah) yang mana berpuasa di bulan tersebut adalah puasa terbaik setelah puasa Ramadhan (HR. Ibnu Majah No. 1742).
Di masa selanjutnya, bulan Muharram memiliki nilai penting bagi umat Islam, di bulan itu Rasulullah saw. dan para sahabat sudah menggagas dan bertekad hijrah ke Madinah (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 7/268), meskipun peristiwa hijrahnya sendiri baru di eksekusi di Rabi’ul Awwal (Ibnu Jarir, Tarikh Ath-Thabari, 2/236. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, 3/252). Kemudian, Muharram juga menjadi bulan pertama dari penanggalan kalender hijriyah, yang ditetapkan sejak masa Khalifah Umar bin al-Khathab r.a., setelah bermusyawarah dengan segenap para sahabat lainnya (Ibnu Jarir, Tarikh Ath-Thabari, 2/238). Maka, umumnya umat Islam di dunia senantiasa mengaitkan bulan Muharram dengan peristiwa hijrah dan mengambil hikmah darinya.
Kedatangan tahun baru hijriyah adalah momentum yang sangat tepat kita untuk perbaukan diri, ada beberapa sikap dan aktivitas yang perlu diagendakan:
- Mengambil pelajaran dari peristiwa hijrah. Begitu banyak pelajaran penting dari berbagai peristiwa hijrah, baik hijrah ke Habasyah, Thaif, dan Madinah. Salah satu pelajaran tersebut adalah hijrahnya seorang muslim secara ma’nawiyah (hijrah secara nilai-nilai); dari kekufuran menuju tauhid, dari keburukan menuju kebaikan, dari syubhat dan haram beralih kepada yang halal, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari malas berdakwah dan beribadah kepada giat, dan semisalnya.
- Meneladani perjuangan para sahabat ketika hijrah. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa ayat “Kamu adalah umat yang terbaik” (QS. Ali ‘Imran: 110) merupakan pujian Allah Swt. kepada para sahabat yang berhijrah bersama nabi dari Mekkah ke Madinah (Ibnu Jarir, Jami’ al-Bayan, 7/101). Pujian tersebut sangat wajar mereka terima karena mereka hijrah dengan situasi yang sangat berat, seperti cuaca yang begitu panas, melewati gurun yang ganas, umumnya berjalan kaki, meninggalkan rumah, harta perniagaan, dan keluarga, untuk menyambut seruan Allah Swt. dan Rasul-Nya berhijrah menyelamatkan agama dan dakwah saat itu, di tambah lagi mereka menjadi umat terdepan dalam amar ma’ruf nahi munkar dan keimanan)
- Kesiapan menghadapi berbagai tantangan dalam memperjuangkan kemenangan umat. Tahun baru Islam, dapat dijadikan momen untuk semakin mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan bagi umat Islam. Tantangan zaman ini begitu kompleks dan tidak ringan, maka perlu kerjasama semua elemen umat Islam untuk saling bahu membahu menghadapinya. Tidak mungkin tantangan yang demikian ini dihadapi satu elemen saja. Di samping itu, kesiapan fikriyah, ruhiyah, ma’nawiyah, maaliyah, wasilah serta strategi, menjadi hal yang urgen dipersiapkan. Firman Allah dalam QS. Al-Anfal: 60
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ
Dan siap siagakanlah oleh kalian segala kekuatan sejauh kemampuan kalian … (QS. Al-Anfal: 60)
- Muhasabah dan Menguatkan hubungan dengan Allah Swt. Menjadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk muhasabah terhadap langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi, baik muhasabah bagi individu muslim maupun bagi masyarakatnya secara kolektif (jama’i). Tentunya yang tidak kalah penting muhasabah bagi seluruh elemen bangsa agar memilih pemimpin yang jujur, benar-benar mencintai bangsa dan negaranya, mau bekerja untuk kemajuan negerinya dan kemakmuran rakyatnya.Kekuatan hubungan dengan Allah Swt. merupakan ciri paling kentara generasi hijrah di masa lalu. Nafas dan gerak langkah mereka adalah ketaatan demi ketaatan. Mereka adalah singa di siang hari, dan rahib di malam hari. Oleh karenanya, kesibukan dalam kerja-kerja memenangkan umat Islam jangan diartikan hanya sebatas kerja-kerja taktis, tapi juga mencari sebab turunnya pertolongan dan kemenangan dari Allah Swt. dengan shalat wajib dan sunnah, dzikir pagi dan petang, tilawah Al-Quran, puasa, doa, sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, amar ma’ruf nahi munkar, serta meninggalkan apa-apa yang Allah Swt. haramkan.
- Puasa Muharram, Tasu’a, dan ‘Asyura. Berpuasa di bulan Muharram adalah salah satu amalan unggulan dan memiliki dua model; umum dan khusus. Secara umum puasa Muharram -tanggal berapa pun itu- dinilai sebagai puasa terbaik
- Eratkan ukhuwah Salah satu agenda Rasulullah saw. di Madinah adalah mempersaudarakan antara Muhajirin dengan Anshar. Persaudaraan yang tercipta ketika itu sangat fenomenal karena bukan hanya wacana, tetapi konkrit hingga mereka mendahulukan kepentingan saudaranya dibandingkan kepentingan diri sendiri (itsar). Mereka berbagi tempat tinggal, pakaian, bahkan hak waris sampai Allah membatasi pembagian waris pada ikatan persaudaraan nasab. Ini adalah rahasia keberdayaan generasi sahabat sehingga Islam tersiar ke seluruh pelosok bumi. Allah Swt. berfirman: Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orangorang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9).
Semoga dengan beberapa ikhtiar ini Allah Swt. memberikan taufik dan hidayahNya, serta menerima seluruh amal baik dan mengampuni dosa-dosa kita. Amin.

