Penulis : Reni Suwanti, S.Pd., S.Pt
“Beneran usth.. anak saya itu kalau malam terus punya motivasi bangun subuh lebih mudah”
“Matur nuwun banget pokoke ini.. anak-anak jadi ada motivasi untuk lebih baik lagi”
“Terima kasih ust, sejak dinasehati ustadzah anak saya jadi gampang diajak ke masjid, mau ikut ayahnya salat subuh berjamaah di masjid”
Begitulah pesan yang masuk ke whatsap pribadi saya dari beberapa orang tua wali siswa kelas 6 putra di pekan ke-3 tahun ajaran baru, Juli 2023.
Berawal dari pekan pertama ketika pagi hari, Saya selaku wali kelas menanyakan, “siapakah yang tadi salat subuh berjamaah di masjid?” Ternyata tidak ada satupun yang angkat tangan. Lalu mengalirlah sedikit nasihat tentang keutamaan salat subuh berjamaah di masjid terutama bagi laki-laki. Hari berikutnya ketika pertanyaan diulang, “siapakah yang tadi salat subuh berjamaah di masjid?” Alhamdulillah akhirnya ada dua siswa yang dengan antusias mengangkat tangannya. Kedua siswa tersebut semakin antusias ketika namanya ditulis di papan tulis, dan semakin senang ketika mendapatkan sebungkus makanan ringan sebagai hadiah kecil atas usahanya berjalan di waktu subuh menuju masjid.
Hari berganti hari, seolah tiap pagi menjadi moment wajib untuk saya bertanya berulang kali, “siapakah yang hari ini salat subuh? siapakah yang berjamaah? siapakah yang berjamaah di masjid?” Dan sepertinya menjadi moment menyenangkan bagi mereka para siswa dengan bangga menjawab bahwa mereka sudah melaksanakan salat subuh di masjid. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah siswa yang angkat tangan menjawab bahwa mereka berjamaah subuh di masjid. Dari 3 siswa, bertambah menjadi 11, hingga pernah 16 dari 29 siswa sukses bangun pagi sebelum adzan dan bergegas ke masjid untuk salat subuh.
Tentunya ini adalah hasil jerih payah orang tua mereka dirumah untuk membangunkan Ananda bangun pagi dan melaksanakan salat jamaah subuh di masjid. Fakta membuktikan bahwa mereka yang melaksanakan salat subuh di masjid adalah bersama orang tua/keluarga mereka. Guru di sekolah hanyalah pemantik, penyemangat, pengingat untuk para siswa agar bangun pagi dan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa salat subuh berjamaah di masjid terutama bagi siswa laki-laki, selebihnya adalah dari support dan pengkondisian orang tua di rumah.
Beberapa fakta menarik kelas 6C ESLUHA dari hasil rekapitulasi jumlah salat subuh di masjid adalah pada bulan Juli hanya 10 kali atau 5 kali subuh di masjid, ternyata bisa 28 kali di bulan Agustus. Bahkan ada yang belum pernah sama sekali berjamaah subuh di bulan Juli, namun di bulan Agustus mengalami peningkatan yang drastis yaitu 20, 26, dan 28 kali….Masyaa Allah. Sungguh prestasi luar biasa untuk pendidikan iman anak-anak, ternyata mereka mempunyai potensi yang harus terus dipupuk oleh guru bersama orang tua.
Hingga suatu saat setelah pembagian bingkisan snack bagi 7 siswa terbanyak salat subuhnya, ada siswa yang bertanya, ”ustadzah, gimana caranya bisa bangun pagi sebelum subuh?” Dari raut wajahnya mengatakan bahwa dia ingin sekali bisa bangun pagi seperti teman-teman yang lain. Ketika saya jawab, ”coba pakai alarm atau minta dibangunkan orang tua”. Anak ini membalas, ”aku ga bisa ust pakai alarm tetap tidak dengar, orang tuaku juga bangunnya habis adzan subuh”.
Begitulah kolaborasi antara guru dan orang tua sangat dibutuhkan untuk kesuksesan pendidikan anak. Apalagi rata-rata kebanyakan siswa lebih menurut kepada guru daripada orang tua, sehingga banyak orang tua yang berpesan untuk anak lewat gurunya. Bagi guru, praktik kolaborasi seperti ini tentunya menjadi ladang amal yang tidak akan terhingga nilainya. Jika anak melaksanakan kebaikan dari apa yang dikatakan oleh gurunya, maka itu nilainya tidak akan bisa dihitung dengan rupiah. Semangat menebar kebaikan untuk bapak ibu guru di Indonesia.
Lampiran gambar

Pemberian reward jawara salat subuh di masjid bulan Juli 2023 (capaian rata-rata diatas 10 x )

Pemberian reward jawara salat subuh di masjid bulan Agustus 2023 (capaian rata-rata diatas 25 x )

