You are currently viewing POMG DAN MULIA PARENTING SCHOOL PARALEL KELAS I

POMG DAN MULIA PARENTING SCHOOL PARALEL KELAS I

YOGYAKARTA – “Jangan biarkan anak melihat orangtua main game di hp, biasakan anak melihat orangtua pegang Al Qur’an.” Ustadz Sholihudin menegaskan kepada orangtua yang menghadiri Pertemuan Murid dan Guru (POMG) dan Mulia Parenting School (MPS) pada tanggal 23 November 2024.

Pertemuan Orangtua dan Guru ini bertempat di lantai bawah Masjid Al Hakim yang ada di kompleks SDIT Luqman Al Hakim. Pertemuan Orangtua dan Guru yang diselenggarakan paralel kelas I kali ini istimewa. Pembicara yang dihadirkan adalah Ustadz Sholihudin, pengasuh pondok pesantren Al Firdaus di Jalan Imogiri Barat, Bantul Yogyakarta.


Ustadz Sholihudin juga menyampaikan bahwa pembiasaan dekat Al Qur’an harus sudah dilakukan sejak kecil yaitu saat usia 4-7 tahun yang beliau sebut sebagai golden age. Pendekatan tersebut dengan metode menghafalkan Al Qur’an.
Mengapa? Karena menghafalkan Al Qur’an tidak perlu terampil membaca Al Qur’an dulu. Hal penting lain yang disampaikan ustadz adalah, anak-anak tidak hanya mendengarkan apa yang disampaikan orangtua pada mereka, tetapi juga melihat contoh yang diberikan orangtua. Orangtua adalah role model anak. Apa yang dilihat pada orangtua akan masuk dalam alam bawah sadar mereka, sehingga mereka secara otomatis menirukan apa yang dilakukan orangtua.


Mulia Parenting School (MPS) adalah wadah bagi orangtua wali murid untuk sharing pendampingan dan Pendidikan anak di rumah agar apa yang dibiasakan di sekolah juga dikawal di rumah, atau sebaliknya. Guru juga turut mengawal target dan pembiasaan karakter baik yang juga diterapkan di rumah. Paralel kelas 1 kali ini sengaja mengangkat tema Bagaimana membumikan Al Qur’an dalam Keluarga. Harapannya orangtua juga membiasakan anak-anak dekat dengan Al Qur’an, bukan hanya di sekolah saja anak-anak dibiasakan berinteraksi dengan Al Qur’an. Maka tujuan membentuk karakter anak Qur’ani bukan hanya dibebankan sekolah tetapi juga menjadi PR besar orangtua untuk mewujudkannya. Dengan demikian orangtua dan sekolah bersama-sama mewujudkan terciptanya generasi penerus yang cerdas, mandiri, dan berakhlaq mulia. (EKK)