You are currently viewing KOKURIKULER DAN KUNJUNGAN EDUKATIF KELAS 5: BELAJAR MEMBUAT WAYANG DAN WEDANG UWUH

KOKURIKULER DAN KUNJUNGAN EDUKATIF KELAS 5: BELAJAR MEMBUAT WAYANG DAN WEDANG UWUH

Yogyakarta – Pagi itu nampak berbeda dengan pagi biasanya. Siswa siswi kelas 5 SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta berangkat menuju sekolah dengan seragam yang berbeda. Tidak seperti biasanya, mereka menggunakan kaos angkatan 27 yang berwarna biru dengan kombinasi warna merah di bagian lengan. Nampak wajah-wajah berseri dan bersemangat dari siswa siswi kelas yang datang memasuki gerbang sekolah. Yup, hari itu Selasa, 28 April 2026 siswa siswi kelas 5 SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta akan mengadakan dua kegiatan sekaligus yaiku kunjungan edukatif berkolaborasi dengan kegiatan kokurikuler. Lokasi yang dengan dituju dari kegiatan ini adalah Desa Wisata Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Yang mana desa ini menjadi memiliki kekhasan utama yaitu banyak penduduknya yang bekerja sebagai pembuat wayang dan minuman khas dari Kabupaten Bantul yaitu wedang uwuh.

Sebelum berangkat menuju lokasi, semua siswa kelas 5 berkumpul di masjid untuk melaksanakan sholat duha serta penjelasan singkat dari Ustadzah Eni selaku koordinator tim paralel kelas 5. Jumlah siswa yang mengikuti sebanyak 89 anak dengan didampingi oleh 11 ustad ustadzah. Rombongan berangkat dari sekolah menuju ke Desa Wisata Wukirsari menggunakan 4 armada bus pada pukul 08.00. Selama perjalanan semua siswa nampak masih bersemangat. Karena ini merupakan pengalaman mereka mengunjungi lokasi yang baru dengan kegiatan yang baru pula. Sesampainya di lokasi, semua siswa diarahkan untuk menuju Pendopo Amartapura yang menjadi tempat berkumpulnya untuk tamu yang datang ke Desa Wisata Wukirsari. Setelah semua duduk dengan rapi, barulah acara dimulai. Dengan dipandu Ustad Rusli sebagai perwakilan dari sekolah, menyampaikan maksud dan tujuan mengajak siswa kelas 5 SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta yaitu untuk belajar mengenal lebih dalam tentang kebudayaan yang ada di Kecamatan Imogiri khususnya wayang dan wedang uwuh. Karena di Yogyakarta sendiri, wayang dan wedang uwuh ini sudah menjadi hal sangat terkenal di seluruh Indonesia. 

Kegiatan diawali dengan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan menyusuri Desa Wisata Wukirsari. Dengan didampingi kakak-kakak pemandu sambil berjalan kaki siswa kelas 5 dan ustad ustadzah diajak untuk menikmati setiap sudut Desa Wisata Wukirsari. Dengan mengambil jalur tracking yang dekat, siswa kelas 5 dan ustad ustadzah diajak untuk menyaksikan secara langsung pembuatan wayang serta wedang uwuh. Wayang terbuat dari kulit kambing, kerbau, dan sapi yang sudah dibersihkan, dikeringkan kemudian dipotong serta digambar sesuai tokoh pewayangan. Dengan menggunakan teknik tatah sungging, sang pembuat bisa menghasilkan tokoh pewayangan yang diinginkan. Proses berikutnya yaiku pemahatan dan pewarnaan. Nah kegiatan inilah yang nantinya akan dipraktekkan oleh siswa kelas 5.

Setelah selesai, kemudian kedua kelompok ini bertukar tempat dan kegiatan. Sehingga semua siswa bisa mendapatkan pengalaman dan kesempatan yang berbeda dengan membuat wedang uwuh dan wayang kulit. Sampai menjelang waktu duhur semua kegiatan di area Desa Wisata Wukirsari sudah selesai. Kemudian ustad ustadzah mengajak semua siswa kelas 5 menuju masjid untuk melaksanakan sholat duhur berjamaah. Setelah selesai sholat, anak-anak dipersilahkan untuk makan siang dan bisa berbelanja souvenir yang ada disitu. Waktu sudah menunjukkan 13.30 akhirnya rombongan berpamitan dengan pengurus dan kakak-kakak pemandu dari Desa Wisata Wukirsari. “Terima kasih kami ucapkan atas kunjungan dari SDIT Luqman Hakim Yogyakarta yang telah datang ke Desa Wisata Wukirsari untuk belajar kebudayaan. Semoga setelah dari ini semakin menyukai dan mencintai kebudayaan khususnya wayang kulit dan wedang uwuh.” tutup Pak Murtadho selaku pimpinan dari kelompok Desa Wisata Wukirsari. (RH) 

Berpindah ke gedung pertunjukan, disana siswa kelas 5B dan 5D belajar membuat wayang. Diawali dengan sejarah tentang wayang, khususnya wayang kulit dan pengenalan beberapa tokoh wayang. Ternyata wayang yang dibuat di Desa Wisata Wukirsari ini berbahan dasar kulit sapi, kulit domba, atau kulit kerbau. Setiap anak diberi satu lembar kulit sapi yang sudah dikeringkan. Kulit sapi tersebut sudah ada gambar tokoh wayang, kemudian diminta untuk menggunting sesuai pola. Kemudian dibantu dengan kakak-kakak pemandu dipasangkan kayu kecil untuk pegangan. Proses selanjutnya adalah mewarnai tokoh wayang yang sudah dipotong. “Lihat aku dapat tokoh Arjuna.” ucap Rayyan Atharizz kelas 5D. “Aku malah dapat Sadewa, kayak nama kakakku.” kata Satria Bagaskara yang kebetulan punya kakak kembar yang namanya Nakula dan Sadewa.

Setelah selesai, kemudian kedua kelompok ini bertukar tempat dan kegiatan. Sehingga semua siswa bisa mendapatkan pengalaman dan kesempatan yang berbeda dengan membuat wedang uwuh dan wayang kulit. Sampai menjelang waktu duhur semua kegiatan di area Desa Wisata Wukirsari sudah selesai. Kemudian ustad ustadzah mengajak semua siswa kelas 5 menuju masjid untuk melaksanakan sholat duhur berjamaah. Setelah selesai sholat, anak-anak dipersilahkan untuk makan siang dan bisa berbelanja souvenir yang ada disitu. Waktu sudah menunjukkan 13.30 akhirnya rombongan berpamitan dengan pengurus dan kakak-kakak pemandu dari Desa Wisata Wukirsari. “Terima kasih kami ucapkan atas kunjungan dari SDIT Luqman Hakim Yogyakarta yang telah datang ke Desa Wisata Wukirsari untuk belajar kebudayaan. Semoga setelah dari ini semakin menyukai dan mencintai kebudayaan khususnya wayang kulit dan wedang uwuh.” tutup Pak Murtadho selaku pimpinan dari kelompok Desa Wisata Wukirsari. (RH)