You are currently viewing Membingkai Langkah dengan Keikhlasan

Membingkai Langkah dengan Keikhlasan

Oleh: @rochma_yulika

Hidup tak sekedar bagaimana meraih semua asa. Namun jangan dilupa bingkai keikhlasan karena Pemilik Semesta butuh menjadi sesuatu yang niscaya. Agar semua bernilai maka berikan niat yang jelas. Semua harapan yang ini diwujudkan tak hanya sekedar untuk di dunia tapi juga secara jangka panjang agar selamat ketika hidup di keabadian. 

Menjaga hati dalam bingkai ikhlas tidaklah mudah. Godaan demi godaan kadang membuat hati terasa gerah. Gemerlap dunia sungguh menyilaukan bila tak hati-hati sangat mudah kita akan terjerumus ke jalan keburukan. Bahkan segala cara akan digunakan selama kepentingan dirinya tak terabaikan. 

Orang yang ikhlas akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan keikhlasannya tersebut akan menjadi pembuka untuk kebaikan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya kamu tidak diberikan umur panjang, lalu kamu mengerjakan suatu amal untuk mengharap keridaan Allah, kecuali kamu akan bertambah derajat dan kemuliaan dengan amal itu.” (HR. Bukhari no. 4409 dan Muslim no. 1628)

Keikhlasan akan menentramkan dan menenangkan jiwa serta menjauhkan diri dari merendah kepada makhluk hanya karena ingin mendapatkan keridaan dan perhatian mereka. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan,“Siapa yang mengetahui hakikat asli seorang manusia, maka ia akan tenang dan santai.”

Kita harus tahu bahwa orang lain sehebat apa pun doa tidak akan bisa memberikan manfaat ataupun memberikan kemudaratan untuk dirinya. Sehingga ia tidak akan ambil pusing hanya untuk mendapatkan pujian dan keridaan mereka.

Menjaga keikhlasan butuh cara, sehingga ketika mulai agar bergeser dari jalan yang seharusnya butuh ingat beberapa hal berikut. 

1. Memperbanyak doa, karena Rasulullah juga mengajarkan.

Rasulullah SAW sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan, padahal beliau orang yang paling jauh dari kesyirikan. Di antara doa yang sering Rasulullah SAW panjatkan: “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)

Bagaimana pun juga kita ini insan lemah yang sangat mungkin untuk berubah. Maka kita harus gunakan kekuatan doa sebagai senjata utama untuk menjaga hati kita agar keikhlasan senantiasa terjaga. Dengan keikhlasan akan ada hasil nyata dan ridla Allah SWT. 

2. Merahasiakan amal kebaikan.

Tak perlu banyak show up dari setiap kebaikan yang kita lakukan. Walau kadang butuh untuk ditunjukkan kepada orang lain agar terinspirasi. Hanya saja buat kuat menjaga niat. 

Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain begitulah penjagaan hati dari rasa tidak ikhlas atau segala urusan hanya mencari keridlaan Allah. Dorongan yang utama ketika melakukan sesuatu adalah penilaian Allah bukan manusia. Menurut sebuah Hadits diriwayatkan Bukhari dan Muslim, ada tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya. Di antara tujuh golongan itu adalah seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Begitu juga perbuatan baik yang lainnya. 

3.  Ada rasa khawatir sekiranya amal yang sudah dilakukan dengan berlelah tidak diterima oleh Allah.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mu’minun [23]: 60). 
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah senang memberi, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut. 

4. Menjaga hati dari ujub. Ujub itu berbangga diri atas amal yang sudah dilakukan. 

Semakin ujub atau berbangga diri seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut. Bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “Seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap azab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu. Sedangkan ada seseorang yang beramal baik, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.”

Semoga kita terjaga dari keburukan dan terjaga amal kebaikan sehingga banyak karya bersejarah yang akan muncul di permukaan dan bernilai lantaran tidak hanya ditujukan untuk kepentingan dunia tetapi juga akhiratnya.