Penulis : Muhammad Singgih Nugroho Cahyono, S.Ag

Bulan ini kita bangsa Indonesia terlarut dalam suasana euforia peringatan kemerdekaan RI yang ke 78, selain tradisi tirakatan di malam tanggal 16 biasanya digelar pula lomba-lomba untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan ini.
Meskipun kadang terasa pilu di pojok hati, dimana di sana sering kita lihat, untuk makan sekeping kerupuk seorang anak Indonesia harus berjuang luar biasa, diikat tanganya, harus ini, harus itu. Lebih mirisnya lagi semua itu dilakukan untuk ditertawakan. Tidak ketinggalan juga bapak- bapak yang setiap hari sudah tiada kenal lelah pontang panting bekerja mencari nafkah, masih harus kehilangan harga dirinya karena syaratnya harus memakai daster istrinya ketika main bola, sekali lagi dengan dalih untuk ditertawakan. Ibu-ibupun tidak luput dari prank ketika terpaksa harus berlari di dalam karung maka yang ditunggu adalah ketika jatuh dan terguling.
Mungkin bisa dipahami karena bangsa ini sudah sedemikian rupa terlilit kesengsaraan, dan juga melihat kesengsaraan di depannya. Maka sepertinya tiada lain yang bisa dilakukan selain mentertawakan kesengsaraan itu. Seolah-olah dia ingin mengatakan, wahai sengsara, kamu sudah tidak menakutkan lagi, kamu adalah keseharianku, kita sudah bergumul begitu akrab dan begitu lama, dan aku tidak melihat yang lain kecuali kamu, hahahaha….
Sementara di sana ada segelintir manusia yang digadang-gadang menjadi penyelamat, pelindung dan pengayom justru menjadi monster yang tega menghisap mereka bukan hanya darahnya, tapi juga keringat dan air matanya, bahkan nanahnya, meskipun semua bahkan sudah mengering. Dengan topeng bolongnya mereka tertawa merasa hebat, merasa berkuasa, merasa berhasil mengelabuhi orang orang yang berhasil mereka kelabui.
Merdeka! Adalah teriakan mereka, yang merasa keculasannya, kedurjanaannya, kedholimanya tidak ada yang bisa menghentikan, tidak ada yang bisa membalasnya.
Merdeka! Adalah teriakan mereka yang tertipu, tidak sadar bahwa rumahnya, sawahnya, kebunnya, istrinya, anaknya bahkan dirinya sudah dijual orang, sementara mereka tak sadar karena yang dia lihat semua masih bersamanya, saat ini, padahal entah esok, entah pekan depan, entah bulan depan, entah tahun depan. Saat jatuh tempo itu tiba.
Merdeka! Yang dulu menjadi cita-cita kakek moyang kita, yang mereka rebut dengan darah dan jiwanya sekarang menjadi prank, tipuan yang mengiris-iris hati.
Maka ingatlah bahwa tidak dulu tidak sekarang, harapan itu tinggal satu, kaum muslimin. Karena di dada mereka ada nur, yang Tuhan titipkan. Cahaya yang bisa membedakan mana haq mana batil, mana hebat mana bejat dengan jelas. Cahaya yang akan menerangi malam yang pekat, cahaya yang sanggup memanaskan bahkan membakar apa saja yang menghalangi. Menelanjangi semua kemunafikan yang akan membongkar semua kebohongan yang akan merobohkan semua kedurjanaan.
Jalan mana yang aku bisa mendapat nur, itu? Ihdinas shirotol mustaqiim. Syirotoladzina an’amta alaihim. Tapi, sayangnya itu bukan jalan yang nyaman, bahkan penuh derita dan hambatan.
Kembali kepada Islam, kembali kepada Allah dan sunnah Rasulnya. Al Qur’an, Al Qur’an, Sunnah, Sunnah. Waspadalah dengan adu domba, yang sudah berkali-kali mencelakakandan menyengsarakan kita. Bukan, bukan itu musuh kita, bukan orang-orang bodoh itu, bukan orang-orang miskin itu. Itu saudara kita. Tetaplah yakin, hidup dan mati itu sama saja, bila kita di jalan yang lurus.

