You are currently viewing MENUMBUHKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI PILAH SAMPAH

MENUMBUHKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI PILAH SAMPAH

 Oleh : Sulastri, S.Pd.

“Ini dibuang di keranjang hijau atau merah ust?” tanya salah satu siswa sambil menunjukkan sampah di tangannya. Pertanyaan inilah yang sehari – hari ditanyakan peserta didik kami di kelas satu saat akan membuang sampah. Sejak DIY diberlakukan darurat sampah, program pilah sampah menjadi prioritas utama di berbagai instansi pemerintah maupun pendidikan. Hal tersebut diperkuat dengan surat edaran dari pemerintah kota Yogyakarta, sehingga masalah tersebut menjadi fokus perhatian dari banyak pihak, tak terkecuali di SDIT Luqman Al hakim Yogyakarta.

SDIT Luqman Al Hakim selanjutnya disingkat Esluha mencanangkan program pilah sampah sejak tahun ajaran baru. Program tersebut sudah disosialisasikan ke semua warga sekolah. Warga sekolah saling mengingatkan program yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Salah satu tugas guru adalah membimbing peserta didiknya agar peduli dengan lingkungan. Guru atau siapapun warga sekolah  harus sering mengingatkan kepada anak didiknya agar menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Setiap warga sekolah harus membuang sampah pada tempatnya sekaligus memilahnya.

Siswa kelas satu yang merupakan peralihan dari TK ke SD masih banyak adaptasi dengan lingkungan barunya. Program pilah sampah di kelas 1 di kawal oleh wali kelas. Setiap  hari ada sesi pengingatan kebersihan lingkungan. di awal pelajaran membiasakan sepuluh menit untuk lingkungan sekolah (semutlis), mengecek kebersihan di sekitar tempat duduknya, di bawah meja kursi, laci , jika ada sampah dibuang pada tempatnya dan sesuai jenisnya. 

Bagi siswa kelas satu memilah sampah tidaklah terlalu sulit, pengetahuan tentang sampah dan cara mengelolanya. sudah diberikan ke siswa saat sosialisasi, program P5. atau ketika agenda sepuluh menit untuk lingkungan sekolah (semutlis). Sosialisasi pilah sampah dilakukan secara bertahap. Guru sebisa mungkin menjelaskan kategori sampah secara sederhana. Penjelasan yang sederhana biasanya akan mudah ditangkap oleh siswa. apalagi untuk siswa kelas bawah. Untuk mempermudah pemahanan siswa kelas bawah terutama kelas satu , jenis sampah yang ada di sekolah disederhanakan menjadi 2 terlebih dahulu yaitu organik dan anorganik. meskipun masih ada jenis sampah yang lain seperti sampah residu dan sampah berbahaya dan beracun ( B3). Hal tersebut didasarkan pada jenis sampah yang sering muncul di sekolah.

Contoh – contoh sampah organik dan anorganik yang dijelaskan yang sering ada di SDIT Luqman Al hakim antara lain  sampah kantin, sampah kelas, sampah dari Mulia mart dan Sampah makanan dari catering. Contoh sampah dari kelas seperti: bekas rautan, kertas, plastik, daun, dan lidi tusuk makanan. Sampah dari  kantin seperti: kertas, plastik, daun, lidi, dan stik puding. Jenis sampah dari Mulia mart seperti: botol minuman, gelas plastik, bungkus-bungkus snak. Jenis sampah dari catering biasanya sisa- sisa makanan.

Setelah menjelaskan jenis- jenis sampah, guru bisa memberikan contoh konkret cara cara memilah dan membuang sampah di tempat sampah yang telah disediakan sekolah. Kebetulan tempat sampah yang tersedia di setiap kelas  ada dua jenis tempat sampah, yaitu  tempat sampah warna merah untuk sampah anorganik dan tempat sampah warna hijau untuk organik. samaph botol plastik dan gelas plastik dikumpulkan ditempat tersendiri yang kita namai kotak sangkar, Hal tersebut sesuai apa yang kita jelaskan ke siswa sehingga memudahkan untuk memilah.

Awal-awal pelaksanaan program pilah sampah  masih banyak siswa yang kadang bingung membedakan jenisnya,masih keliru memasukkan sampah di tempat sampah yang bukan seharusnya. Setiap hari selalu ada pertanyaan sampahnya dibuang di wadah yang mana. Seiring berjalanya waktu siswa mulai paham dan lama- lama hafal dengan sendirinya. karena sampah yang ada sehari – hari jenisnya hampir sama. Seorang guru apalagi guru kelas bawah tidak boleh bosan untuk menjawab pertanyaan meskipun pertanyaan yang disampaikan dari hari ke hari hampir sama. Maklum karena masih anak-anak. kadang mereka sudah tahu tapi butuh penguatan. Orang dewasa pun kadang demikian.

Begitulah salah satu tugas guru sehari- hari dalam rangka mengawal pilah sampah harus melakukan pengingatan terus menerus. Guru harus greteh , juweh dan bisa dikatakan crewet. Guru selalu mengingatkan setiap hari, mengawal kebiasaan murid untuk membuang dan memilah sampah pada tempatnya. Guru sering memberi motivasi ke siswa bahwa pilah sampah itu mudah. memahami jenis sampah, memilah sampah , membuang sampah sesuai kategorinya, sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan nyaman. Berawal dari kesadaran dan pemahaman itulah lama- lama akan menjadi kebiasaan yang akhirnya melekat kuat pada jiwa anak-anak menjadi sebuah karakter yang baik dan membudaya. Semoga dari sinilah karakter peduli lingkungan bisa ditumbuhkan yang akan dibawa sampai dewasa dan menjadi bekal dalam kehidupannya nanti.