You are currently viewing MOTIVASI BERANGKAT SEKOLAH

MOTIVASI BERANGKAT SEKOLAH

Oleh : Maryanti, S.Pd.I

Saya adalah ibu dari dua orang putri, dengan selisih usia 6 tahun. Anak pertama saya sekarang menginjak remaja, sedangkan anak kedua saya kelas 1 SD.

Setiap anak memiliki keistimewaan tersendiri. Membuat kita sebagai orangtua harus selalu belajar dan belajar.

Saya teringat tulisan pada sebuah buku pada bagian bawah tercetak tebal, “salah satu bentuk hadiah terbaik bagi anak adalah memiliki orang tua yang mau terus belajar”.

Saya termasuk orang tua yang setuju bahwa tujuan belajar bukan hanya untuk menjadi pintar atau untuk menjadikan anak berada pada sebuah profesi tertentu (dokter, guru, polisi dan sebagainya). Tetapi tujuan belajar adalah lebih luas dari itu, salah satunya tujuan belajar adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat manusia dan bermanfaat bagi seluruh alam.

Baik anak pertama maupun anak kedua saya, saya terapkan hal yang sama ketika mereka tidak semangat untuk belajar ke sekolah. Tidak semangat ke sekolah entah karena capek atau karena ada masalah dengan temannya atau karena masalah yang lainnya.

Hal yang saya lakukan pertama adalah lantunan doa saya ketika pada malam harinya, “Ya Allah mudahkanlah (saya sebut nama anak saya) besok semangat belajar di sekolah”. Selain doa yang saya lakukan adalah saya sering menceritakan kejadian anak-anak di suatu tempat,  dimana anak-anak itu ingin belajar tetapi terkendala oleh banyak hal, karena tidak ada biaya, karena orangtua, karena sakit dan lain sebagainya.  Salah satunya banyak saya ambil kisah dari anak-anak Palestina.

Saya sering menceritakan tentang nasib orang-orang Palestina termasuk keadaan anak-anaknya. Asal usul Palestina, kenapa negara itu dijajah, keadaan mereka saat ini dan sebagainya.

Pernah suatu Ketika, anak saya yang pertama sama sekali tidak semangat sekolah seingat saya waktu itu dia kelas 3 atau 4 SD. Ketika itu paginya menangis susah bangun dan tidak mau berangkat ke sekolah, bahkan sejak malamnya sudah benar-benar bilang tidak mau sekolah. Saya tanya penyebabnya saya kemudian menasehati sesuai dengan masalah yang dialami, kemudian saya memberikan sedikit motivasi, “kak, orang Islam itu harus rajin belajar, harus semangat belajar. karena semakin banyak orang Islam yang sholih yang pinter dia akan bisa meguasai dunia, dengan menguasai dunia dia bisa menolong dan membela Palestina. Tapi kalau orang Islam tidak mau belajar nanti siapa yang akan membantu saudara-saudara muslim kita yang butuh pertolongan seperti saudara kita di Palestina?” saya sampaikan cerita itu dengan perasaan sedih.

Anak pertama saya diam sejenak waktu itu, kemudian segera masuk kamar mandi untuk mandi pagi bersiap ke sekolah meski dengan muka cemberut.

Hari ini, pengalaman beberapa tahun lalu terulang, anak kedua saya sering bilang, “aku gak mau sekolah” alasannya capek, kadang alasannya pengen belajar di rumah saja. Maklum karena baru kelas 1 SD dan masih pada tahap penyesuaian dari TK yang masih banyak bermain beralih ke SD yang sudah ada tanggung jawab untuk fokus yang lebih lama dengan beberapa tugas yang ada.

Hal yang sama coba saya lakukan untuk memberikan motivasi padanya agar tetap semangat pergi belajar ke sekolah. Selain lantunan doa yang merupakan senjata bagi seorang ibu, solusi dari setiap masalah. Saya juga membangkitkan perasaan empati bahwa banyak anak di suatu daerah yang sebenarnya ingin sekolah tetapi terkendala.

Dua hari ini saya melihat postingan beberapa teman yang menggambarkan anak-anak Palestina yang sedang tidur kelelahan setelah belajar, mereka tidur dengan keadaan basah kuyup karena hanya berada di bawah tenda yang bocor, alas tidurnya tanah (menyedihkan sekali).

Pagi hari, ketika membangunkan tidur, setelah membaca doa bangun tidur seperti biasanya, saya berkata dengan lirih, “mbak, kasihan ya anak-anak di Palestina”.

Dia sedikit terperanjat, “kenapa mi?” (sambil mencoba membuka matanya)

“Umi lihat anak-anak Palestina tidurnya tidak pakai kasur, tidurnya di atas tanah, kehujanan karena tempat tinggalnya tanpa atap. Mereka tidak punya rumah karena rumahnya kan sudah di bom sama Israel. Mereka juga tidak punya sekolah karena sekolahannya juga sudah dihancurkan sama Israel”.

“Mbak mau bantu anak-anak Palestina tidak?” dia mengangguk.

“Caranya harus belajar yang rajin, nanti kalau belajar yang rajin sungguh-sungguh mbak bisa jadi orang hebat bisa bantu Palestina”.

Kita belikan Kasur ya mi?  iya.  “Kita besok bisa belikan buku yang banyak ya mi?” iya. “Besok aku mau kasih buku gambar yang banyak ya mi, biar anak-anak Palestina bisa belajar gambar pakai buku gambar, pasti mereka senang (hobinya memang menggambar, jadi membelikan buku gambar adalah hal yang sering kami lakukan, jadi mungkin dalam pikirannya kalau dibelikan buku gambar pasti anak lain bahagia seperti dirinya.

Alhamdulilah, anak kedua saya ini langsung semangat bangun dari tidurnya. Bahkan sepanjang perjalanan berangkat sekolah obrolan kita adalah tentang Palestina. Apa yang akan diberikan untuk anak Palestina, dia bertanya berulang kali.

Semoga bermanfaat terutama bagi saya pribadi, bernostagia dengan hal-hal seru dalam membersamai putri-putri saya. Berharap keduanya akan menjadi permata. Menjadi anak-anak yang sholihah yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya dan bermanfaat bagi ummat. Aamiin

Yogyakarta syahdu, dipenghujung Januari dengan air mata kebahagiaan menerjang derasnya hujan dalam perjalanan mengantar anak ke sekolah.