Oleh: Ratna Sari Dhamayanti, S.Pd
Siapakah Zubair bin Awwam? Mengapa keluarga Zubair layak menjadi contoh? Bagaimana pola pendidikan Zubair hingga menjadi sosok teladan?
Zubair bin Awwam termasuk salah satu dari 10 sahabat utama yang dijamin masuk surga oleh Allah. Termasuk assabiqunal awwalun yang masuk Islam di usia 16 tahun dan memiliki kedudukan khusus di hati Rasulullah. Zubair bin Awwam, dikenal oleh penduduk bumi juga oleh penduduk langit. Inilah yg menjadi inti tujuan utama dalam mendidik generasi, terkenal di langit dan di bumi.
Ketika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan memanggil malaikat Jibril, “wahai Jibril, Aku mencintai fulan, maka cintailah dia”, maka Jibril pun mencintai fulan dan mengumumkan kepada penghuni langit agar juga mencintai fulan.
Inilah inti dari terkenal di antara penduduk langit, menjadi orang yang dicintai Allah. Maka inilah tujuan kita mendidik anak, menjadi terkenal di antara penduduk langit, lebih baik jika juga terkenal di bumi.
Sekarang mari kita berkenalan lebih jauh dengan keluarga Zubair.
Siapakah orang tua Zubair?
Ayah beliau adalah Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay. Kakak dari bunda Khadijah. Maka beliau adalah keponakan dari Bunda Khadijah. Dari jalur ayah ini beliau mewarisi kemampuan berdagang, mapan secara ekonomi, bangsawan yang karakternya lembut.
Lalu dari jalur ibu, ibunda Zubair bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib. Beliau saudara kandung Hamzah, paman Rasulullah yang bergelar “Singa Allah”. Hamzah terkenal sangat kharismatik, termasuk salah seorang yang disegani oleh Abu Jahal, maka karakter Shafiyah sangat mirip dengan Hamzah ini. Terbayang ya, bagaimana kuatnya karakter kedua orang tua Zubair, terutama sang ibu. Lalu dari jalur ibu, Zubair mewarisi kecerdasan yang tinggi, karena ibunda Zubair termasuk orang yang memiliki pola berpikir lebih maju, berani melawan arus cara berpikir kebanyakan orang pada saat itu, memiliki keberanian dan keteguhan sikap.
Perpaduan orang tua yg hebat kemudian melahirkan sosok Zubair yang luar biasa.
Sekarang mari kita melihat siapakah istri Zubair? Istri beliau adalah Asma binti Abu Bakar. Siapa yang tidak kenal dengan Asma binti Abu Bakar? Beliau yang terkenal dengan julukannya “Dzatin Nitaqain” yang berarti wanita yang memiliki 2 sabuk, sabuk yang diganti oleh Allah dengan selendang dari surga. Akankah orang yang mendapat jaminan selendang surga tidak masuk surga? Masya Allah.
Asma yang dengan gagah berani ikut serta dalam perencanaan besar hijrahnya Rasulullah dan ayahnya dari kepungan kaum kafir Quraisy. Asma pula yang menyuplai bahan makanan untuk Rasulullah dan ayahnya selama bersembunyi di gua Tsur. Asma dengan gagah berani berhadapan dengan Abu Jahal, gembong kafir Quraisy yang ditakuti saat itu, ketika bertanya kemana Rasulullah dan ayahnya pergi. Dengan berani Asma menjawab tidak tahu, hingga dipukul sampai berdarah. Tetapi Asma tidak membocorkan perjalanan hijrah itu.
Itulah sosok orang-orang di sekitar Zubair. Orang-orang yang berperan besar membentuk karakter seorang Zubair bin Awwam. Bersama istri yang shalihah dan tangguh menjadi teman hidup Zubair, melahirkan generasi yang tak kalah gemilangnya.
Kini kita lihat anak-anak dari Zubair dan Asma. Dari rahim Asma, lahirlah Abdullah bin zubair. Lahir di Quba dan menjadi anak laki-laki pertama yang lahir dari kaum muhajirin. Kelahiran Abdullah begitu menggembirakan kaum muslimin, karena kaum Yahudi di Madinah sempat membuat isu bahwa kaum muhajirin adalah orang-orang yang mandul dan tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Maka kelahiran Abdullah menjadi pematah isu tersebut.
Hal luar biasa lainnya adalah kita bisa membayangkan, Asma melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah dalam keadaan hamil tua. Betapa kuat fisik Asma saat itu, tangguh menjalankan syariat dalam kondisi yang paling lemah.
Begitu lahir, Abdullah dibawa ke hadapan Rasulullah saw. Didoakan dan diberi kurma kering yang telah dikunyah lembut oleh Rasulullah. Makanan pertama Abdullah adalah kurma yang telah bercampur dengan air liur Rasulullah. Barang siapa yang di dalam tubuhnya ada bagian dari tubuh Rasulullah, maka tubuhnya tidak akan tersentuh api neraka. Zubair dijamin surga, Asma binti Abu Bakar dijamin surga, kini bayi Abdullah pun dijamin surga. Sungguh potret keluarga yang luar biasa bukan? Keluarga ahli surga.
Masa kecil Abdullah adalah masa-masa tersulit kaum muslimin di Madinah. Selama rentang usia balita Abdullah bin Zubair, Madinah dibawah ancaman peperangan. Ada lebih dari 30 ancaman yang menimpa kota Madinah. Di masa sulit itulah Abdullah bin Zubair menghabiskan masa kecilnya.
Di usia Abdullah 5 tahun ini, kota Madinah sedang terlibat perang Ahzab. Kota Madinah dikepung musuh selama 1 bulan lamanya. Seluruh kaum wanita dan anak-anak berlindung di balik benteng. Suasana sangat mencekam, ditambah pengkhianatan dari Bani Quraizhah yang menikam dari dalam kota Madinah. Keadaan saat itu benar-benar genting, dan Rasulullah mengutus Zubair bin Awwam untuk menjadi informan yang menyusup ke kalangan Bani Quraizhah. Abdullah yang mengetahui hal itu, bangga luar biasa pada ayahnya. Dan keberanian berkobar-kobar di dalam dadanya. Pada masa seperti inilah keberanian Abdullah terbentuk. Dan pada usia 8 tahun, Zubair menyuruh Abdullah untuk berbaiat kepada Rasulullah saw. Terbayangkah oleh kita anak umur 8 tahun berbaiat, menyerahkan dirinya di jalan Allah dan Rasul-Nya? Baik Zubair maupun Abdullah saat itu tahu persis apa konsekuensinya dari baiat itu.
Inilah generasi emas, yg dididik oleh keimanan yang kuat. Abdullah bin Zubair menjadi pemimpin perang yang menaklukkan Afrika Utara dengan gemilang di usia 24 tahun. Dia pun menguasai banyak ilmu, ilmu fiqih, administrasi yang hebat, juga menguasai banyak bahasa, sekaligus menjadi orator ulung. Tetapi, dia juga sekaligus ulama ahli ibadah dan zuhudnya yang luar biasa.
Setelah Abdullah, anak Zubair berikutnya yang juga gemilang adalah Urwah bin Zubair. Urwah dikenal dengan kedalaman ilmunya dan menjadi rujukan para ulama.
Inilah sekilas gambaran tentang keluarga Zubair bin Awwam, terkenal di langit dan di bumi. Sejarah menorehkan tinta emas kegemilangan keluarga ini. Semua bermula dari proses awalnya, dari kegigihan seorang Shafiyah binti Abdul Muthalib mengasuh anaknya Zubair bin Awwam dengan cara yang tidak biasa. Shafiyah mendidik Zubair di luar kebiasaan masyarakat Quraisy saat itu. Shafiyah adalah seorang ibu yg visioner, ketika ditegur tentang pola asuh yang diterapkannya, ia menjawab dengan lantang, ” Aku sedang menyiapkan anakku untuk mengemban tugas yang tidak biasa, tugas yang luar biasa kelak..” Dan Zubair membuktikannya, bahkan hingga ke cucu beliau Abdullah dan Urwah.
Apakah yang menjadi pendorong utama perubahan besar ini? Yang menjadi pendorong utama perubahan itu adalah keimanan yang menancap kuat dalam jiwa para sahabat. Al-Qur’an dan sunnah menjadi modal terbesar mereka untuk berubah menjadi agent of change yang revolusioner. Menjadi muslim, berarti menyiapkan diri menjadi agen perubah yang akan membawa kemaslahatan bagi alam semesta.
Mendidik generasi dengan cara melampaui tantangan yang ada saat ini, bukan hanya sekedar reaktif atau untuk penyelesaian masalah yang sesaat. Misalkan, ajarlah anakmu ilmu agar ia mampu membawa keseimbangannya bagi alam ini, menjadi khalifah di muka bumi yang akan mengatur dan mengembangkan. Bukan hanya sekedar memanfaatkan. Jadikan obsesi anak-anak kita adalah menjadi hamba yang taat, bukan hanya sekedar takut maksiat. Karena orang yang taat kepada Allah pastinya akan menjauhi maksiat.
Semoga kita bisa belajar dari Keluarga Zubair, keluarga yg dirahmati Allah, dikenal di langit dan dikenang di bumi.

