You are currently viewing MENJADI SEORANG GURU: DIGUGU LAN DITIRU

MENJADI SEORANG GURU: DIGUGU LAN DITIRU

Oleh : Rusli Hasyim, S.Pd

Guru merupakan salah satu pekerjaan yang pada beberapa akhir ini menjadi bahan pembincangan. Ketika peringatan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-78 kemarin, presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo menyampaikan bahwa tingkat stress guru lebih tinggi daripada profesi yang lain. Hal itu ternyata juga banyak dialami oleh guru-guru di seluruh Indonesia. Berbeda dengan jaman dahulu, ketika guru menasehati siswa untuk berbuat kebaikan bahkan jika melakukan kesalahan yang fatal, siswa bisa dihukum dengan berat. Coba bisa ditanyakan kepada orang-orang jaman dulu yang sekolah di tahun 90-an ketika pulang sekolah, lapor ke orang tua bahwa tadi di sekolah dimarahi gurunya pastinya akan tambah dimarahi oleh orang tuanya di rumah.

Berbeda dengan anak-anak tahun sekarang atau yang dikenal dengan generasi Z. Anak-anak jaman sekarang jika ditegur oleh gurunya ketika melakukan kesalahan, sudah berani menyanggah bahkan ada pula yang melawan. Disinilah peran dari seorang guru yang harus bisa menjadi seseorang yang sesuai dengan filsafah orang jawa. Guru adalah singkatan dalam Bahasa Jawa yaitu digugu lan ditiru. Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah seseorang yang dituruti dan dicontoh. Dalam hal ini dituruti perintah atau ucapannya, dan dicontoh perbuatannya.

Lalu bagaimana bisa seseorang yang dituruti ucapannya dan dicontoh perbuatan malah memiliki tingkat stress lebih tinggi dari profesi yang lain. Ya itu benar, karena guru tidak hanya digugu lan ditiru pada saat berada di sekolah saja. Ketika guru berada di lingkungan masyarakat pun sekarang menjadi salah satu profesi yang bisa dijadikan contoh yang baik. Tentunya sudut pandang masyarakat masih tetap sama tentang seorang guru. Di lingkungan masyarakat seseorang dengan profesi guru masih dianggap sebagai orang yang memiliki tingkah laku yang baik dan perkataan yang baik pula. Tak jarang jika di lingkungan masyarakat seorang guru bisa dijadikan seorang tokoh ataupun pemimpin. Segala sesuatu baik tingkah laku dan perkataan dari seorang guru di lingkungan masyarakat bisa dijadikan sebagai contoh bagi anggota warga yang lain.

Menjadi seorang guru adalah salah satu pekerjaan dengan tanggung jawab yang besar. Mengapa bisa begitu? Karena seorang guru tanggung jawabnya tidak hanya kepada siswa dan orang tua siswa, tetapi juga kepada lembaga pendidikan tempat bekerja dan terhadap bangsa dan negara. Kualitas bangsa akan bergantung pada bagaiman kualitas guru yang mengajar dalam suatu negara. Namun siapa yang layak dan seharusnya menjadi guru? Semua orang yang telah belajar dan memiliki pendidikan di suatu bidang tertentu artinya telah terdidik bisa menjadi seorang guru atau pengajar dan pendidik yang bisa diajarkan kepada orang lain.

Menjadi seorang guru tidak bisa sembarangan mengajar, dengan alasan ya itu tadi guru akan dituruti dan di contoh, apa yang akan kita lakukan dan ajarkan, akan tertanam didalam pikiran anak yang kita didik hingga akhir hayatnya dan suatu saat anak itu akan mengaplikasikan apa yang kita contoh dan kita ajarkan. Maka dari itu jadilah seorang guru yang baik, bijak dan layak untuk di gugu lan di tiru.