You are currently viewing SEMUA BOLEH MENANGIS

SEMUA BOLEH MENANGIS

Oleh:Adriani Margani

“ Dan pada suatu pagi, ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu …” (Pada Suatu Pagi Hari – Sapardi Djoko Damono)

***

Menangis adalah salah satu cara untuk meringankan luka dan sedih di dada. Menangis merupakan hal biasa. Menurut para ahli, menangis merupakan perilaku positif untuk kesehatan fisik maupun mental.  Namun, entah mengapa ada anggapan, tangisan hanya boleh dimiliki oleh anak dengan jenis kelamin perempuan.

Bagaimana dengan anak berjenis kelamin laki-laki? Anak laki-laki yang menangis dianggap lemah dan cengeng. Mereka dianggap tidak layak memiliki kesempatan untuk sejenak meringankan sedih dan luka di dada dengan cara mengeluarkan air mata.

Kebebasan menangis, mestinya dimiliki oleh setiap anak. Menangis adalah sebuah mekanisme pelepasan alamiah yang membantu untuk menenangkan diri. Allah mengaruniakan kelenjar lakrimal tidak hanya kepada anak perempuan, akan tetapi anak laki-laki pun memilikinya.

Maka sudah sewajarnya, baik anak perempuan atau anak laki-laki sah-sah saja mengeluarkan air mata untuk meringankan luka di dadanya. Menangis adalah hak asasi manusia. Setiap anak memiliki hak untuk menangis. Menangis bukanlah tanda kelemahan.

Sang Nabi pun Menangis

Saat Nabi Muhammad Saw kecil pun, beliau menangis. Ada beberapa peristiwa yang membuatnya sedih dan berlinang air mata. Kelak dewasa, Nabi Muhammad Saw adalah manusia yang paling lembut hatinya. Hati beliau dipenuhi kasih sayang dan empati yang demikian besar tidak hanya kepada manusia, akan tetapi kepada makhluk hidup lainnya.

Menanggapi Tangisan dengan Empati

Salah satu cara bijak menanggapi tangisan adalah menunjukkan keterlibatan emosi, bahwa kita memahami perasaannya. Juga tidak menghina siapapun yang menangis. Cukup bayangkan jika sedang berada di posisinya. Dan bersama-sama merangkul tangisan sebagai bagian alami dari kehidupan.