Oleh : Rian Dwi Astuti, S.Pd.
Suatu hari di dalam kelasku..
Anak anak.. besok hari selasa kita akan mengadakan marketday. Silakan kalian boleh berjualan makanan atau minuman yang menggunakan bahan buah atau sayuran.
Yeyy.. seru anak anak gembira.
Oh iya anak anak.. pernahkah kalian menemukan pedagang yang menggratiskan minuman di hari Jumat? Beberapa anak langsung menjawab antusias. Iya us, aku pernah lihat ada tulisan di warung bakso dan mie ayam. Tulisannya Jumat berkah gratis minuman.
Iya betul sekali. Ustadzah juga pernah melihat. Saat pulang sekolah di hari Jumat, Ustadzah melihat ada warung mie ayam bakso yang ramai pembeli. Di depan warungnya ada tulisan hari Jumat mie ayam harga lima ribu. Wah padahal kalau selain hari Jumat harga mie ayamnya tujuh ribu lho.
Iyalah us.. penjualnya kan ingin bersedekah. Sahut beberapa anak.
Ustadzah.. aku..aku aku. Ahmad mengangkat tangan ingin bicara. Ya Ahmad silakan bicara.
Ustadzah aku.. aku aku.. aku.. kalau besok aku jadi pengusaha mau tak gratisin untuk semua. Kata Ahmad dengan ucapan agak gagap namun penuh semangat.
MasyaAllah.. hebat. Mau sedekah minuman juga di hari Jumat?
Iya, Tapi aku mau gratisin semua makanan dan minuman yang aku jual. Ustadz Ustadzah nggak usah bayar. Pokoknya gratisss. Semua orang yang mau beli juga tak gratisin. Ahmad berkata dengan wajah berseri seri.
Beberapa hari berikutnya saat persiapan marketday di dalam kelas, aku berkeliling melihat lihat barang dagangan yang dijual anak-anak. Hingga tibalah aku pada seorang murid yang sedang merapikan barang dagangannya.
Wahh… apa yang kamu jual Nak? Puding. Jawab Fatimah singkat. Terlihat wajah ceria Fatimah.
Berapa harga pudingmu? Seribu. Jawabnya singkat. Jujur aku terkejut saat Fatimah menyebutkan harga seribu karena kulihat pudingnya terlihat cantik dan enak.
Ehm.. boleh nggak Ustadzah usul. Fatimah diam sejenak dan memandangku. Usul apa ustadzah?
Emmm.. gimana kalau pudingmu dijual dengan harga tiga ribu. Fatimah menggeleng. Dua ribu ya? Kataku berharap dia setuju. Fatimah menggeleng lagi. Pokoknya seribu ustadzah. Kata mamaku terserah aku mau jual berapa. Jadi aku jual seribu aja. Aku kan mau bersedekah juga.
Fatimah berkata dengan sedikit nada tinggi mempertahankan diri. Akhirnya aku berkata. Baiklah, silakan berjualan dan terus semangat ya..
Alhamdulillah akhirnya anak anak berhasil melaksanakan marketday dengan gembira dan semangat. Itulah sepenggal cerita saat kegiatan P5 beberapa pekan yang lalu. MasyaAllah anak anakku yang sholih sholihah.. semoga cita citamu yang mulia sebagai pengusaha dermawan dikabulkan oleh Allah SWT. Aamiin.

