Ery Masruri.
Innalillahi wa ina ilaihih roji’uun. inilah respon Reflek kebanyakan orang ketika mendengar berita kematian, kamudian bertanya; “kenapa? sakit apa?”
Seolah, sakit menjadi sebab kematian.
Ketika anda menunggui saudara yg sedang sakit di ICCU, lalu dokter berkata: “semua obat terbaik sudah kami berikan, tapi maaf kondisinya masih belum membaik. Tensi, tekanan jantung, saturasi terus menurun, tolong dibantu do’a saja ya..”
Reflek, anda berpikir ‘sudah tidak ada lagi harapan’, karena dokter sudah menyerah. Seolah dokter
adalah pemilik kesembuhan.
Sepintas, Respon refleks diatas normal saja. Logik, dan masuk akal. Hampir dilakukan oleh semua orang, bahkan ahli agama sekalipun.
Padahal sedikit saja kita merenung dan menyimak kembali berbagai peristiwa sakit dan kematian, akan menemukan fakta; banyak orang sehat yang mendadak mati.
Sementara orang yang sakit parah dan lama masih hidup juga.
Fakta ini, menunjukkan bahwa Reflek Respon di atas sesungguh secara prinsipal ‘paradoks’.
Paradoks antara Keimanan yang meyakini umur manusia ada di tangan Alloh SWT, tidak bisa dimajukan atau diundur walau sedikit.
dengan Logika ‘Sakit’ yang harus diobati, salah satunya melalui Medis.
Sakit bukanlah sebab kematian, tapi hanya peristiwa yang diberikan oleh Alloh SWT untuk menguji kesabaran, keikhlasan semangat amal untuk kesembuhan dan tawakalnya kepada Alloh SWT. sedangkan Mati adalah hak Alloh untuk menentukan kapan, di mana dan bagaimana caranya.
so…jangan tanya: dia mati kena apa, tapi tanyalah; apa peristiwa terakhir dalam hidupnya.
Wallohu a’lam.

