You are currently viewing Blue Arrow Strategy: PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN

Blue Arrow Strategy: PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN

Blue Arrow Strategy
PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN
Ery Masruri.

Ketika Ruh pertama ditiupkan, Alloh SWT hanya bertanya, tidak memaksa: “.. Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”,
lalu jiwa dibiarkan merdeka membuktikan atau mengingkari kesaksiannya.

Karenanya ‘merdeka’ adalah Fitrah, takdir penciptaan yang menjadi kebutuhan setiap jiwa.
Jika kehilangan kemerdekaan, jiwa menjadi kerdil, rapuh bahkan lumpuh. Semua daya dan imaginasi tunduk kepada kehendak ‘yang menguasai’, manusia, tahta atau harta.

sayangnya banyak manusia atas nama kekuasaan, keunggulan bahkan tanggung jawab dan kasih sayang justru memasung jiwa, menghilangkan kemerdekaan.

Demi masa depan, anak dipaksa mengkuti kehendak orang tua.
Demi perdamaian orang dipaksa diam.
Demi kesenangan orang dipaksa menjalani siksaan.
demi kemasyhuran orang dipaksa melepas kehormatan.
Tidak ada kesempatan bertanya, apalagi membantah walau ada hujah.
Maka berputarlah lingkaran penjajahan. awalnya dipaksa, lalu menjadi senang dipaksa, kemudian senang memaksa.

yang merasa punya ilmu,
yang merasa punya harta,
yang mersa punya kuasa,
semua merasa punya hak untuk memaksa.

Yang lemah, yang miskin, yang tak berilmu, merasa wajar dipaksa karena memang tidak mampu dan tidak tahu. pasrah apa maumu.

Maka jadilah hidup serba terpaksa;
sebagian terpaksa menderita, sebagian terpaksa bahagia.
sebagian terpaksa kaya, kebanyakan terpaksa miskin.
Sebagian terpaksa memperdaya, sebagian tak kuasa menolak tipu daya.

yang cendekia,yang kaya, yang kuasa seolah hidup merdeka dan bahagia, padahal sesungguhnya jiwanya menderita karena selalu dipaksa oleh nafsunya.

ya Nafsu itulah pemaksa yang sesungguhnya. Yang dengan kejam merenggut kemerdekaan jiwa bahkan jiwa penguasa yabg terlihat merdeka

maka jika ingin bangsa ini benar benar merdeka, didiklah bangsa dengan pendidikan yang memerdekaan, yakni pendidikan yang membebaskan jiwa dari nafsu dunia
dan mengokoh jiwa dengan cinta kepada Rabbnya.
Karena sungguh Cinta kepada Rabbnya, akan membuka pandora kesyukuran,kesabaran, kasih sayang, dan kepahlawanan.

Sedang Cinta kepada dunia akan membuka pandora kesombongan, kedengkian, keculasan,kekerdilan dan keputus asaan.

Jogja, 13 Aguatus 2024