Peserta Parade Tasmi’ dengan Capaian 4 Juz dan Predikat Mumtaz
Kedekatan dengan Al-Qur’an yang dibangun sejak usia dini mengantarkan Syifaa Aulia Izzatunnisa Santoso, siswi kelas IIIC, pada capaian hafalan yang membanggakan. Di awal kelas III, Syifaa telah mencapai hafalan 4 juz dengan hasil yang selalu Mumtaz.

Syifaa lahir di Yogyakarta pada 26 Januari 2018. Ia dikenal sebagai anak yang aktif, ceria, pemberani, dan mudah bergaul. Memiliki gaya belajar auditori, Syifaa lebih mudah menghafal melalui pendengaran. Kebiasaannya mendengarkan sang ibu membaca Al-Qur’an dan muratal menjadi salah satu jalan yang Allah mudahkan dalam perjalanannya menghafal.
Sang ibu, Sholekah (Ika), mulai mengenalkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada Syifaa sejak usia sekitar 4 tahun. Melihat kemampuan hafalannya yang terus berkembang, pendampingan secara lebih istiqamah dimulai ketika Syifaa berusia 5,5 tahun atau saat awal masuk TK. Alhamdulillah, dalam waktu sekitar 14 bulan, Syifaa berhasil menyelesaikan hafalan Juz 30. Perjalanan tersebut terus berlanjut hingga kini. Syifaa menjadi salah satu peserta Parade Tasmi’ yang dilaksanakan pada 22 Agustus 2026.

Parade Tasmi’ merupakan agenda rutin yang dilaksanakan satu bulan sekali sebagai salah satu ikhtiar SD Islam Terpadu Luqman Al Hakim Yogyakarta dalam menguatkan dan menjaga hafalan peserta didik. Melalui kegiatan ini, peserta didik diberikan kesempatan untuk memperdengarkan hafalan, melatih keberanian, serta membangun tanggung jawab untuk terus menjaga hafalan Al-Qur’an yang telah diperoleh.
Dalam mendampingi Syifaa, ibundanya, Sholekah, menerapkan metode sederhana dan konsisten. Ayat dibacakan berulang kali, kemudian Syifaa diminta mengulanginya. Mendengarkan muratal juga menjadi bagian penting dalam proses belajarnya. Sementara itu, murajaah dilakukan secara rutin dengan membuat kesepakatan bersama Syifaa mengenai surah dan jumlah hafalan yang akan diulang.
Proses menghafal tentu tidak selalu berjalan mulus. Ketika Syifaa merasa lelah, jenuh, bosan, atau sulit fokus, orang tua memilih memberikan waktu untuk beristirahat, mengajaknya berbicara dan bercanda, serta memberikan pujian dan motivasi. Setelah suasana hatinya kembali baik, proses menghafal dan murajaah dilanjutkan kembali.
Menurut sang ibu, kedekatan Syifaa dengan Al-Qur’an juga membawa perubahan dalam kesehariannya. Syifaa menjadi lebih lembut hati, lebih sabar, lebih mampu menahan amarah, dan lebih mudah menerima nasihat. Perubahan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.
“Banyak perubahan yang kami rasakan dari hari ke hari, namun sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin itulah barakah dari Al-Qur’an,” ungkap Ika.
Atas capaian Syifaa saat ini, keluarga merasa bersyukur, bangga, sekaligus terharu. Mereka menyadari bahwa semua pencapaian tersebut merupakan karunia dan izin Allah, sementara orang tua berusaha menjadi wasilah dalam mendampingi prosesnya.
Ke depan, keluarga berharap Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keistiqamahan kepada Syifaa untuk menghafal dan menjaga Al-Qur’an hingga 30 juz, serta menjadikannya seorang hafidzah yang tidak hanya memiliki hafalan, tetapi juga berakhlak dengan Al-Qur’an.

Pesan Ibunda Syifaa untuk Para Orang Tua
Mendampingi anak dalam menghafal Al-Qur’an membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan keistiqamahan. Ibunda Syifaa berpesan agar orang tua tidak mudah menyerah ketika anak mengalami kejenuhan atau kehilangan semangat. Penggunaan gawai dan televisi juga perlu dibatasi dan diawasi agar tidak mengganggu proses belajar dan murajaah.
“Perkuat kesabaran, nikmati prosesnya, dan jangan mudah menyerah. Lelahnya mendampingi ananda dalam menghafal Al-Qur’an, insya Allah merupakan investasi abadi yang akan berbuah kemuliaan,” pesan Ika.
Ia juga mengingatkan para orang tua untuk meluruskan niat karena Allah, menjadi teladan dalam mencintai Al-Qur’an, dan senantiasa memohon pertolongan Allah dalam setiap proses mendampingi anak.
Kisah keluarga Syifaa menjadi pengingat bahwa menumbuhkan kecintaan anak kepada Al-Qur’an membutuhkan proses, kesabaran, keteladanan, dan doa. Semoga kisah ini menjadi teladan dan inspirasi bagi para wali murid yang juga sedang bersama-sama mendampingi putra-putrinya dalam mencintai, menghafal, dan menjaga Al-Qur’an.
Semoga ikhtiar keluarga di rumah senantiasa bersinergi dengan ikhtiar sekolah, sehingga tumbuh generasi yang tidak hanya dekat dan hafal Al-Qur’an, tetapi juga berakhlak dengan Al-Qur’an dan menjadi generasi Qur’ani yang membawa kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan umat.
Ya Allah, jagalah hafalan Syifaa, mudahkan langkahnya bersama Al-Qur’an, kabulkan cita-citanya menjadi hafidzah 30 juz, serta berikan kekuatan dan keistiqamahan kepada seluruh orang tua dalam mendampingi putra-putrinya mencintai Al-Qur’an. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (EMC-Eka)

