You are currently viewing SISWA KELAS I SDIT LUQMAN AL HAKIM GELAR  PRAKTIK KEMANDIRIAN DAN TANGGUNG JAWAB

SISWA KELAS I SDIT LUQMAN AL HAKIM GELAR PRAKTIK KEMANDIRIAN DAN TANGGUNG JAWAB

Yogyakarta — Suasana penuh keceriaan dan antusias terlihat jelas di lingkungan SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta. Sebanyak 111 siswa kelas I mengikuti rangkaian kegiatan kokurikuler khusus bertajuk “Aku Anak Mandiri dan Bertanggung Jawab” yang dirancang secara komprehensif untuk menanamkan nilai-nilai karakter luhur sejak usia dini, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan ini menjadi salah satu program unggulan sekolah dalam menyeimbangkan antara perkembangan akademik dan pembentukan kepribadian peserta didik.

Pembukaan dan Pengantar Kegiatan

Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB dan dibuka secara resmi oleh Kepala Sekolah bersama jajaran Guru SDIT Luqman Al Hakim, khususnya paralel kelas I. Dalam sambutan pembukaannya, pihak sekolah menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya diajarkan melalui teori di dalam kelas, melainkan harus diinternalisasikan melalui pembiasaan nyata sehari-hari.

“Pembentukan karakter mandiri dan tanggung jawab harus dimulai dari hal-hal paling mendasar di sekitar anak, mulai dari merapikan barang pribadi, menjaga kebersihan lingkungan belajar, hingga kesadaran untuk menyelesaikan tugas tanpa selalu bergantung pada orang lain,” ujar perwakilan pihak sekolah dalam sambutannya. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mencetak generasi yang memiliki kemandirian tinggi, percaya diri, serta memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitarnya.

Rangkaian Acara dan Inti Kegiatan

Rangkaian acara disusun secara runtut dan interaktif agar para siswa dapat menyerap nilai-nilai positif dengan cara yang menyenangkan. Berikut adalah rincian kegiatan utama yang diikuti oleh para siswa kelas I:

1. Sesi Storytelling Keteladanan Nabi Muhammad SAW

Sesi pertama yang paling menyita perhatian siswa adalah kegiatan storytelling atau bercerita interaktif. Guru pendamping membawakan kisah inspiratif tentang masa kecil Nabi Muhammad SAW saat menggembala domba. Dengan bahasa yang komunikatif dan penuh penjiwaan, siswa diajak untuk meneladani sifat Rasulullah SAW yang amanah, sabar, ulet, dan penuh tanggung jawab.

Suasana bertambah semarak ketika anak-anak diajak terlibat langsung secara fisik. Mereka diminta memeragakan gerakan menggembala, menghitung jumlah domba secara bersama-sama, serta menjawab berbagai pertanyaan edukatif seputar cerita yang baru saja disampaikan. Melalui metode ini, nilai-nilai keteladanan agung dapat meresap ke dalam jiwa anak dengan cara yang sangat menyenangkan.

2. Praktik Kemandirian Diri dan Pengelolaan Barang Pribadi

Usai sesi inspirasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik langsung yang menantang kemandirian fisik siswa. Para siswa dipandu untuk membongkar isi tas sekolah mereka masing-masing, mengenali setiap perlengkapan belajar yang dimiliki, memastikan tidak ada alat tulis yang tertinggal, dan menata kembali buku serta perlengkapan tersebut secara rapi ke dalam tas.

Tidak hanya berhenti pada urusan tas, anak-anak juga antusias mengikuti pelatihan mengurus kebutuhan diri sendiri. Mereka berlatih memasang kaos kaki dan sepatu mandiri, membuka serta mengancingkan baju seragam, melipat pakaian dengan rapi, hingga merapikan sandal dan sepatu pada rak penyimpanan yang telah disediakan. Aktivitas yang tampak sederhana ini melatih motorik halus sekaligus membangun mental pantang menyerah pada anak.

3. Aksi Nyata Kepedulian Lingkungan

Karakter mandiri dipadukan secara harmonis dengan nilai kepedulian sosial dan lingkungan. Siswa diajak untuk bersama-sama menjaga kebersihan fasilitas sekolah. Mereka berlatih merapikan tikar sebelum dan sesudah kegiatan salat berjamaah, menyiapkan dan merapikan alat makan setelah istirahat, serta memilah dan membuang sampah pada tempatnya. Pengalaman langsung ini menanamkan kesadaran bahwa kenyamanan ruang kelas dan lingkungan sekolah adalah tanggung jawab bersama.

4. Penutup, Apresiasi, dan Pesan

Sebagai puncak rangkaian acara, pihak sekolah menggelar lomba kemandirian kecil-kecilan, seperti kecepatan merapikan alat tulis dan ketangkasan mengancingkan baju. Suasana riuh gembira memenuhi ruangan karena fokus utama kegiatan ini bukanlah mencari siapa yang menang atau kalah, melainkan memberikan apresiasi atas keberanian, proses usaha, dan tekad setiap anak untuk mencoba mandiri.

“Ketika anak-anak berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya masih memerlukan bantuan orang tua atau guru, terpancar binar kebanggaan di wajah mereka. Ungkapan ‘Aku bisa!’ inilah yang terus kita kobarkan sebagai fondasi kepercayaan diri mereka,” ungkap Ustadzah Intarti selaku salah satu guru kelas I.

Kegiatan ditutup dengan pemberian hadiah lomba kemandirian dan pesan agar pembiasaan mandiri ini dapat terus dilanjutkan di rumah masing-masing. Dengan kolaborasi yang erat antara sekolah dan keluarga di rumah, karakter tanggung dan bertanggung jawab diyakini akan tumbuh mengakar kuat pada diri setiap siswa SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta. “Mandiri dalam melakukan kebaikan, bertanggung jawab dalam setiap Amanah.” (EMC-Dyandra)