You are currently viewing Haniyya dan Aqsha, Kakak Beradik yang Bertumbuh Bersama dalam Mencintai Al-Qur’an

Haniyya dan Aqsha, Kakak Beradik yang Bertumbuh Bersama dalam Mencintai Al-Qur’an

Suasana penuh semangat dan haru mewarnai pelaksanaan Parade Tasmi’ #3 SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 16 siswa dan siswi yang berkesempatan memperdengarkan hafalan Al-Qur’an mereka. Di antara peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, terselip kisah istimewa tentang kakak beradik, Haniyya dan Aqsha, yang mengikuti tasmi’ bersama sebagai bagian dari perjalanan mereka dalam menghafal di SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta. 

Haniyya dan Aqsha memiliki karakter yang sama-sama aktif dan berkemauan kuat. Haniyya dikenal memiliki karakter melankolis, sedangkan Aqsha tumbuh sebagai anak yang peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Di balik karakter masing-masing, keduanya memiliki perjalanan yang berharga dalam belajar membaca, menghafal, dan menjaga Al-Qur’an.

Keduanya merupakan putra dari pasangan Nanang Akhmad Prabantika, seorang wiraswasta, dan Vivi Januarti, seorang ibu rumah tangga. Dalam mendampingi anak-anaknya, Ayah dan Bunda berusaha mengambil peran secara bergantian sesuai dengan waktu luang yang dimiliki. Waktu setelah salat Isya atau menjelang tidur menjadi salah satu kesempatan untuk menambah hafalan (ziyadah) dan mengulang hafalan yang telah diperoleh (muroja’ah).

Kebiasaan sederhana juga dibangun di rumah. Haniyya dan Aqsha diajak membaca surah atau ayat yang sedang dihafalkan, serta mendengarkan murottal pada waktu senggang maupun sebelum tidur. Dengan cara tersebut, interaksi dengan Al-Qur’an diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas belajar, tetapi juga tumbuh sebagai kebiasaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Perjalanan menghafal Al-Qur’an tentu memiliki tantangannya sendiri. Ada kalanya anak merasa mengantuk, kesulitan mengingat ayat, atau belum percaya diri ketika harus memperdengarkan hafalannya di hadapan orang lain. Menghadapi kondisi tersebut, Ayah dan Bunda memilih mendampingi anak-anak dengan sabar. Ketika Haniyya atau Aqsha sudah mengantuk karena sudah lelah seharian di sekolah dan tidak ingin melanjutkan hafalan, mereka diperbolehkan beristirahat. Sementara itu, ketika menemukan ayat yang sulit diingat, anak-anak diajak untuk membacanya berulang kali hingga semakin melekat dalam ingatan.

Begitu pula ketika muncul rasa takut atau kurang percaya diri menjelang tasmi’. Orang tua memberikan pemahaman bahwa keberanian untuk mencoba merupakan bagian penting dari proses belajar. Bagi mereka, tidak harus langsung sempurna hasil tasmi’nya yang terpenting adalah tidak berhenti berusaha. Keberanian untuk memperdengarkan hafalan menjadi langkah berharga agar hafalan yang telah dimiliki tetap terjaga dan terus dilatih agar semakin kuat.

Salah satu kebahagiaan yang dirasakan keluarga adalah perubahan positif dalam diri anak-anak. Menurut orang tua Haniyya dan Aqsha, kedekatan dengan Al-Qur’an membuat hati mereka terasa lebih lembut. Keduanya juga menunjukkan ketidaksukaan ketika mendengar perkataan buruk atau kotor.

Dalam mendampingi anak menghafal Al-Qur’an, Bunda Vivi berpesan agar orang tua senantiasa bersabar dan tidak memaksakan anak. Momen menghafal hendaknya dibangun menjadi pengalaman yang menyenangkan, sehingga anak dapat tumbuh dengan perasaan bahagia saat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Pemberian apresiasi atau reward atas pencapaian hafalan anak juga dapat menjadi bentuk dukungan untuk menumbuhkan semangat mereka. Apresiasi tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar. Perhatian, pujian yang tulus, dan kebersamaan orang tua dapat menjadi penyemangat yang berarti bagi anak.

Ke depan, keluarga berharap Haniyya dan Aqsha senantiasa istiqamah dalam tilawah, muroja’ah, dan ziyadah Al-Qur’an. Lebih dari sekadar bertambahnya hafalan, keduanya diharapkan semakin mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai sahabat sejati sepanjang kehidupan. Aamiin. (EMC-Eka)