Oleh : Wiwik Agustinawati, S.T
Guru yang mengajar dengan hati adalah guru yang mampu memberikan stimulasi mental kepada murid-muridnya. Sebenarnya yang mempengaruhi murid tidak hanya pada aspek kognitif tetapi melibatkan rasa atau emosi positif sehingga memberi dampak yang lebih kuat terhadap pemahaman murid. Semakin banyak emosi positif yang dirasakan oleh murid pada waktu belajar maka penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik. Pada kondisi ini anak merasa termotivasi untuk belajar lebih lanjut mengenai ilmu yang diajarkan.
Bila dikaitkan dengan peran emosi terhadap kinerja otak manusia saat belajar, hal ini dapat dipahami baik secara psikologis maupun fisiologis. Seorang murid yang berhasil menguasai pengetahuan atau ketrampilan baru akan merasa senang. Secara psikologis, perasaan senang merupakan pengukuh sosial. Murid mungkin menerima pengukuhan positif yaitu pada saat mereka mendapat nilai yang bagus atau diberi hadiah oleh guru atau oleh orang tua dalam bentuk diberi tambahan jam bermain. Stimulus yang dapat menyebabkan seseorang merasa senang dan ingin mengulangi perilaku tersebut.
Perubahan adalah inti dari belajar. Salah satu tugas seorang guru adalah menciptakan perubahan pada muridnya. Perubahan yang diharapkan di dalam proses pembelajaran tidak hanya pada level kognitif namun juga perubahan sikap bahkan perilaku. Dalam hal ilmu pengetahuan, seorang guru menginspirasi murid untuk menguasai ilmu yang selama ini tidak diketahuinya sehingga mereka menjadi tahu. Murid yang sudah tahu sedikit akan menjadi lebih paham setelah mendapat penjelasan dari gurunya. Dalam hal sikap, perubahan ini mungkin tidak dapat diketahui dengan mudah namun melalui proses yang terus menerus dan dengan mengaplikasi metode pembelajaran yang tepat, perubahan sikap dapat dicapai.
Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang guru setidaknya perlu memiliki dua hal, yaitu penguasaan terhadap materi pembelajaran dan keyakinan bahwa ia menguasai materi pembelajaran. Keyakinan seseorang mengenai kompetensinya dalam suatu bidang. Seorang guru dapat mengelola emosi dirinya sehingga dalam menjalankan tugasnya akan lebih termotivasi untuk mengembangkan berbagai media dan dapat menyampaikan materi dengan lebih jelas dilengkapi dengan contoh yang mudah diterima oleh muridnya.
Kemampuan dalam mengajar adalah perpaduan antara pedagogi, andragogi dan teknik-teknik mengajar. Ketiga terminologi ini banyak digunakan dalam menjelaskan proses pembelajaran. Pedagogi sering dihubungkan dengan pembelajaran untuk anak usia yang lebih muda. Oleh karena itu, pedagogi biasanya digunakan pada saat mengajarkan suatu ilmu pengetahuan yang sama sekali belum diketahui oleh murid. Maka dari itu dalam pedagogi, seorang guru perlu memahami karakteristik murid dan menyesuaikan pendekatan yang digunakan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan tersebut. Karakteristik murid berkaitan dengan psikologi anak sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. Dengan pendekatan yang sesuai murid akan tertarik untuk mengetahui informasi yang disampaikan sehingga dapat mencapai hasil belajar yang lebih optimal.
Pedagogi berbeda dengan andragogi dalam hal kondisi murid yang dihadapinya. Pedagogi menekankan pada proses mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid yang belum memiliki ilmu tersebut sebelumnya. Oleh karena itu, di dalam proses pedagogi, murid tergantung pada arahan guru. Andragogi, adalah proses pembelajaran yang ditujukan pada murid yang memiliki motivasi dan memiliki cukup pengetahuan di bidang yang diajarkan, sehingga proses dialogis dapat terjadi. Konsep andragogi yang digunakan di sini bermakna pembalajaran yang diberikan kepada murid yang sudah memiliki cukup pengetahuan dan pengalaman. Tidak memposisikan murid secara pasif melainkan aktif menggali keterkaitan ilmu yang diajarkan dengan pengalaman hidup mereka. Seorang guru harus memadukan kedua pendekatan dalam proses pembelajaran, kemudian mengadaptasi perencanaan mengajar yang sudah disusunnya sesuai dengan tingkat kematangan kelompok murid yang dihadapinya. Untuk dapat menerapkan pedagogi dan andragogi, seorang guru perlu terus menerus menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi perkembangan psikologis anak anak usia sekolah.

