Oleh: Intarti Ratnaningsih, S.Ag.,S.Pd.SD
“Haha… ha… lucu sekali… benar-benar menggelikan”, suara tawa Alif terdengar keras, sambil memegangi perutnya karena tak dapat menahan tawa melihat kelucuan temannya.
“Hei Alif lupa ya.. Rasulullah jika tertawa tidak sampai terlihat gigi gerahamnya lho”, sejurus kemudian Alif berusaha menutup mulutnya dan menahan tertawa.
“Dia sih.. bikin aku kegelian…”
Percakapan kecil di kelas pagi itu.
Ternyata kisah keteladanan akhlak Rasulullah yang diceritakan ustadzah masih membekas pada benak anak-anak. Inilah kekuatan kisah pembentuk akhlak yang kadang terabaikan. Seorang anak yang kenyang dijejali cerita kecerdikan kancil mengelabui binatang lain, ketika dewasa tak segan menggunakan akalnya untuk mencari keuntungan meskipun dengan cara yang curang. Dongeng pangeran tampan yang membebaskan penderitaan Cinderella dan Klething Kuning setelah bertemu dengannya, akan melambungkan angan-angan gadis cilik, kelak akan bertemu pula dengan pangeran tampan yang membuat hidupnya bahagia. Nampaklah bahwa dongeng ataupun kisah mampu menyihir dan mempengaruhi jiwa pendengarnya dan mengubah perilakunya.
Dalam hal ini, ada perbedaan makna yang mendasar pada dongeng dan kisah. Menurut KBBI, dongeng merupakan cerita yang tidak benar-benar terjadi. Sedangkan kisah adalah cerita tentang kejadian (riwayat dan sebagainya) dalam kehidupan seseorang. Nampak jelas bahwa dongeng dan kisah amat jauh berbeda. Dongeng adalah cerita yang tidak nyata, sedangkan kisah merupakan cerita yang benar-benar terjadi.
Al Qur’an merupakan firman Allah SWT dan pedoman hidup umat Islam, ternyata dua pertiga isinya merupakan kisah. Baik berupa kisah yang benar-benar sudah terjadi ataupun kisah masa depan yang belum terjadi, namun akan pasti terjadi di masa yang akan datang. Dalam QS Al A’raf : 44 dikisahkan bahwa kelak akan terjadi percakapan antara penduduk surga dan neraka. Bahkan ada pula kisah tentang binatang-binatang dalam Al Qur’an yang sarat dengan hikmah.
Inilah keunikan kisah dalam Al Qur’an. Kekuatan kisahnya, ternyata mampu menjadi sistem tarbiyah yang luar biasa. Kita dapat melihat bahwa generasi terbaik sepanjang zaman dimiliki para sahabat yang merupakan hasil didikan Rasulullah SAW melalui kisah-kisah yang disampaikannya berdasarkan Al Qur’an. Kitapun dapat mencontoh beliau dengan mendidik anak-anak kita melalui kisah-kisah dalam alquran maupun pribadi rasulullah dan para sahabat.
Menurut Kak Bimo, seorang tokoh pengkisah terkenal, ada beberapa substansi yang dapat dijadikan kurikulum dalam berkisah, diantaranya adalah:
- Substansi pertama, hendaklah ceritakan kisah-kisah dalam Al Qur’an, untuk melandasi iman dan aqidah mereka. Seperti kisah tentang nabi dan Rasul ulul azmi (nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad), ashabul kahfi dan kisah nabi Yusuf AS yang merupakan prototype profil pemuda yang dapat menjaga diri dari godaan wanita. Hal ini penting untuk bekal anak-anak memasuki dunia remaja. Tentu saja semua diselaraskan dengan bahasa yang sesuai usianya. Tidak ketinggalan, kisah nabi dan rasul lainnya yang wajib kita Imani.
- Substansi kedua, kisah Rasulullah Muhammad SAW secara utuh dalam tujuh fase kehidupannya, dimulai dari kelahiran beliau, masa kecil hingga menikah, diangkat menjadi Rasul, Isro’ mi’raj, peristiwa hijrah hingga perang Ahzab, dimana pada perang Ahzab maka selesailah urusan Rasulullah dengan para kaum kafir Quraisy, kemudian kisah fathu makkah dan yang terakhir adalah kisah wafatnya Rasulullah.
- Substansi ketiga, Shiroh para sahabat, termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga dan sahabat lainnya.
- Substansi keempat, kisah para ulama (baik ulama alquran maupun hadits) dan zuwwama (kisah orang-orang besar seperti shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih dan sebagainya).
- Substansi kelima, kisah para pahlawan nasional, berbekal kurikulum kisah tersebut kita berharap, kelak akan muncul generasi hebat yang kokoh pribadinya dan mampu menghadapi tantangan zaman. Materi tersebut, dapat dengan mudah kita peroleh. Banyak buku-buku bermutu disekitar kita yang dapat dijadikan rujukan materi berkisah.
Namun ada kendala lain yang kadang muncul menjadi sebuah tantangan ayah bunda dalam berkisah. Merasa tak mampu berkisah, tidak pd, dan sebagainya. Padahal jika kita tahu, selain berkisah mampu merubah karakter, dengan berkisah akan terjalin bonding yang lebih erat antara orang tua dan anak. Bonding yang kuat ini akan memudahkan orangtua untuk mengarahkan dan mendidik anak-anaknya. Terlebih jika disampaikan ketika menjelang tidur. Kita tidak perlu berkisah dengan gaya bak pengkisah di atas panggung. Cukup dengan nada dan bahasa yang lembut serta penuh tekanan akan mampu membawa ananda menuju dimensi alfa dan mengirimkan sugesti keteladanan yang akan membentuk perilakunya.
Nah sudahkah ayah bunda berkisah hari ini untuk ananda?
Berkisahlah.. maka peradabanpun akan berubah.

