Oleh : Wening Aryani WG, S.H., S.Pd.
“Us, aku mau diminyaki rambutku!”, kata Abran.
“Mengapa Abran pingin diminyaki?”, tanya ustadzah.
“Biar harum!”, jawab Abran.
Itulah sedikit cerita mengapa ustadzah suka memberi minyak rambut anak laki-laki sebelum pelajaran dimulai atau terkadang di sela-sela waktu istirahat.
Sejak pertengahan semester satu ustadzah sering melakukan kebiasaan tersebut. Setelah itu disisiri satu persatu. Dari semua siswa di kelas, hanya ada dua siswa laki-laki yang tidak mau diberi minyak rambut. Alasan ustadzah rutin memberi minyak rambut agar rambut anak laki-laki di kelas tersebut nampak lebih rapi. Senang rasanya memandang anak-anak yang berambut rapi. Sebab seringkali jika tidak diberi minyak rambut terlebih dahulu rambut anak-anak akan mudah acak-acakan kembali.
Suatu hari ustadzah bertanya, “apakah kalian senang ustadzah beri minyak rambut?”
“Senang, us!”, jawab mereka.
Bagi ustadzah, kegiatan meminyaki rambut anak-anak satu per satu adalah salah satu kegiatan yang menambah rasa sayang pada anak-anak. Bonusnya, tentu saja mereka juga tambah menurut saat di kelas. Ketika menjelang liburan, mereka juga akan kangen dengan jari-jari ustadzah yang terbiasa meminyaki rambut mereka.
Bahkan saat memasuki semester dua, kebiasaan meminyaki rambut kembali ustadzah lakukan. Kali ini ustadzah menambahkannya dengan mendo’akan masing-masing anak. Sambil rambutnya diminyaki di sela-sela kulit rambut sambil ustadzah lantunkan do’a dengan menyebut nama mereka satu-persatu, “ya Allah, semoga fulan tambah sholih, pintar, menurut pada orangtua, dan ustadzah”, kemudian anak-anak lainnya sambil mengamini juga do’a yang dilantunkan ustadzah.
Mungkin kebiasaan ini merupakan hal kecil yang terlihat sangat mudah dilakukan, namun untuk bisa melakukannya dengan rutin dibutuhkan kesadaran diri dan komitmen untuk menyempatkan waktu. Kebiasaan seperti ini juga bermanfaat agar hubungan antara guru dan murid tidak hanya hubungan formal saat proses pembelajaran saja akan tetapi mendidik dengan penuh rasa kasih sayang.
Dengan melakukan hal kecil ini pun, anak-anak akan merasakan kenangan manis di masa sekolah dan jenjang kelas yang sedang mereka jalani saat ini, walaupun hal ini masih terbatas anak laki-laki. Sebenarnya beberapa anak perempuan juga mau diminyaki namun ustadzah harus mencari tempat yang aman agar auratnya anak perempuan juga terjaga.
Inilah sedikit kisah minyak rambut penumbuh kasih sayang di kelas II B.

