You are currently viewing SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta Gelar Parenting Ayah, Menjadi Ayah yang berkorban di Era FOMO

SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta Gelar Parenting Ayah, Menjadi Ayah yang berkorban di Era FOMO

SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta bekerjasama dengan Laznaz Dewan Dakwah sukses menyelenggarakan agenda parenting khusus untuk para ayah pada Ahad, 14 Juni 2026. Acara yang mengusung tema Menjadi Ayah yang Berani Berkorban di Era FOMO ini berlangsung di Masjid Al Hakim di komplek sekolah dengan menghadirkan pembicara nasional, Gathut Satrio Winahyu, ST., MCHt., M.NLP. Agenda ini bertujuan memperkuat mentalitas andalan para ayah dalam mendidik anak di tengah gempuran tren digital yang serba cepat

Fenomena FOMO atau Fear of Missing Out sering kali membuat orang tua terjebak dalam standardisasi semu mengenai kebahagiaan dan kesuksesan anak. Melalui seminar ini, pemateri menekankan bahwa esensi utama seorang kepala keluarga bukan terletak pada tuntutan menjadi sosok yang sempurna tanpa cela, melainkan pada keberanian emosional dan spiritual untuk mendedikasikan waktu, tenaga, serta perhatian yang autentik demi masa depan anak

Suasana di dalam ruangan tampak penuh dan kondusif. Para peserta yang didominasi oleh ayah-ayah ini duduk bersila di atas hamparan karpet hijau khas di masjid, menyimak setiap poin pemaparan dengan saksama. Pemateri menyampaikan materi interaktif menggunakan bantuan visual proyektor yang menampilkan poin-poin analisis strategis terkait psikologi perkembangan anak dan peran krusial figur ayah

Diskusi berjalan dua arah secara kritis. Banyak peserta memanfaatkan momen ini untuk berkonsultasi mengenai tantangan riil mendampingi anak-anak generasi alpha yang sangat lekat dengan gawai. Respon positif dan antusiasme yang tinggi dari para ayah ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif yang kuat bahwa keterlibatan aktif seorang laki-laki dalam domestik pengasuhan adalah kunci utama melahirkan generasi yang kokoh secara mental dan karakter.

Setelah sesi pemaparan materi formal selesai, agenda tidak langsung berakhir begitu saja. Acara kemudian disambung dengan sesi sarapan soto bersama di teras dan ruang kelas selatan masjid. Momen ini dimanfaatkan dengan baik oleh para peserta untuk mencairkan suasana melalui obrolan ringan dan diskusi santai yang lebih personal langsung bersama pembicara. Kedekatan yang terjalin tanpa sekat formalitas ini membuat pertukaran ide serta keluh kesah seputar pola asuh menjadi jauh lebih mengalir dan bermakna.

Melalui kegiatan ini, SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berkarakter, berilmu, dan berprestasi. Sinergi yang kuat antara sekolah dan pemangku kepentingan di rumah, khususnya para ayah, diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan terbaik bagi anak-anak dalam menghadapi dinamika sosial di masa depan. (Ratna)