You are currently viewing Ayah Hadiri Parenting di ESLUHA, Belajar Bahasa Tubuh Anak

Ayah Hadiri Parenting di ESLUHA, Belajar Bahasa Tubuh Anak

Yogyakarta, 20 Juli 2025 — Sebanyak 50 ayah dari siswa SDIT Luqman Al Hakim (ESLUHA) Yogyakarta mengikuti kegiatan Parenting Ayah Hebat #5 pada Ahad pagi (20/7). Acara ini bertempat di halaman sekolah ESLUHA dan berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 07.30 WIB.

Dengan tema “Memahami Bahasa Tubuh Anak, Kunci Komunikasi Tanpa Drama”, parenting ini menghadirkan narasumber Gathut Satrio Winahyu, S.T., MCHt., M.NLP., seorang praktisi pengembangan diri dan ahli komunikasi yang telah berpengalaman dalam mendampingi orang tua dan keluarga.

Dalam pemaparannya, Gathut menekankan pentingnya memahami isyarat nonverbal anak sebagai bentuk awal komunikasi. Ia menjelaskan bahwa sejak dini, anak-anak telah “berbicara” melalui tatapan mata, gerakan tangan, hingga ekspresi wajah, bahkan sebelum mereka pandai merangkai kata.

“Banyak konflik keluarga muncul karena miskomunikasi. Memahami bahasa tubuh anak dapat mencegah salah paham dan membangun kedekatan emosional yang sehat,” jelas Gathut di hadapan peserta.

Acara berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para ayah diberi ruang untuk merefleksikan pola komunikasi dengan anak serta belajar keterampilan praktis dalam menafsirkan pesan-pesan nonverbal yang sering terabaikan.

Menurut Ustadzah Novi, koordinator kegiatan, parenting ini merupakan bagian dari program rutin sekolah untuk melibatkan peran aktif ayah dalam proses pendidikan anak.

“Peran ayah sangat vital, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik dan pelindung. Kehadiran mereka dalam momen seperti ini akan sangat berdampak pada perkembangan anak,” ujarnya.

Sebagai bentuk penguatan pasca kegiatan, panitia juga mengajak peserta untuk berbagi testimoni dan pengalaman mereka melalui laman ulasan QS Consulting yang diasuh oleh narasumber: https://g.page/r/CXEsjBJlduDXEBM/review.

Program Parenting Ayah Hebat merupakan inisiatif berkelanjutan dari ESLUHA yang bertujuan membangun sinergi antara sekolah dan keluarga, dengan menempatkan peran orang tua—terutama ayah—sebagai mitra utama dalam pendidikan karakter anak-anak.