You are currently viewing Belajar dari Karya dan Budaya: Kunjungan Edukatif Siswa Kelas V SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta

Belajar dari Karya dan Budaya: Kunjungan Edukatif Siswa Kelas V SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta

Yogyakarta tidak hanya menyimpan kekayaan sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi ruang belajar yang hidup bagi anak-anak. Hal inilah yang dirasakan 98 siswa kelas V SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta saat mengikuti kunjungan edukatif pada Kamis, 27 Agustus 2026. Didampingi 10 guru, para siswa belajar langsung melalui pengalaman membuat kerajinan dan mengenal warisan budaya batik.

Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB. Tujuan pertama adalah Nena Collection, yang beralamat di Jalan Imogiri Barat Km 8, Sudimoro, Timbulharjo, Sewon, Bantul. Di rumah produksi ini, siswa dapat melihat berbagai produk kerajinan seperti tas, boneka,  gantungan kunci dan lain-lain. Selain itu siswa diberikan kesempatan untuk mempraktikkan proses pembuatannya secara mandiri.

Bersama Bunda Erna sebagai narasumber dan pemandu, siswa terlebih dahulu melihat aktivitas menjahit di rumah produksi Nena Collection. Setelah itu, pengalaman mereka berlanjut ke praktik membuat gantungan kunci berbentuk boneka. Setiap siswa mendapatkan pola kerajinan yang telah dibentuk dan sebagian sudah dijahit, tetapi masih menyisakan lubang untuk memasukkan dakron.

Dengan teliti, siswa memasukkan dakron sedikit demi sedikit hingga boneka terisi penuh. Setelah itu, mereka belajar menjahit bagian yang masih terbuka. Meski sederhana, kegiatan ini memberi pengalaman baru bagi siswa untuk mengenal keterampilan menjahit secara langsung. Kerajinan yang mereka buat pun dapat digunakan sebagai gantungan kunci,sebuah hasil karya yang sekaligus menjadi kenang-kenangan dari perjalanan belajar mereka.

Antusiasme terlihat dari kesan yang disampaikan Ananda Ima. Ia mengatakan bahwa hasil kerajinannya lucu, tempatnya bagus, dan kegiatan menjahit terasa seru karena mendapat bantuan selama praktik. Kegiatan ini juga memberi pesan bahwa sebuah benda yang tampak sederhana, lahir dari ketelitian, keterampilan, dan kreativitas.

Ustadz Yogi, salah satu guru pendamping, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan keterampilan baru kepada siswa. Selain belajar menjahit dan menghasilkan boneka gantungan kunci, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas anak dalam memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang bernilai guna.

Usai belajar keterampilan di Nena Collection, perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Jika sebelumnya siswa belajar menghasilkan sebuah karya dengan benang dan kain, kali ini mereka diajak mengenal salah satu kekayaan budaya Indonesia: batik.

Di Kampung Batik, siswa menyimak penjelasan Pak Jazir mengenai sejarah singkat batik hingga berkembang di wilayah Imogiri dan menjadikan Giriloyo sebagai salah satu sentra batik. Siswa juga diperkenalkan pada proses membatik serta berbagai bahan dan peralatan yang digunakan, mulai dari kain, malam atau lilin batik, pewarna sintetis maupun alami, hingga air. Mereka juga mengenal alat membatik seperti canting, kompor, dan wajan.

Namun, belajar tidak berhenti pada mendengarkan penjelasan. Para siswa mendapat kesempatan untuk mencoba membatik secara langsung. Pengalaman memegang alat dan mengikuti proses membatik membuat pengetahuan tentang budaya terasa lebih nyata. Ananda Sesha mengungkapkan kegembiraannya, “Seru, happy dapat pengalaman membatik.”

Kunjungan edukatif ini akhirnya ditutup dengan kepulangan siswa pada pukul 13.00 WIB. Dalam satu hari, siswa mendapatkan dua pengalaman yang saling melengkapi: belajar keterampilan membuat kerajinan di Nena Collection dan mengenal sekaligus mempraktikkan seni batik di Giriloyo.

Lebih dari sekadar perjalanan keluar sekolah, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata. Mereka belajar bahwa kreativitas dapat diwujudkan melalui keterampilan sederhana, sementara budaya perlu dikenali, dicintai, dan dilestarikan. Dengan mengenalkan budaya dan menumbuhkan kreativitas secara langsung, kunjungan edukatif ini diharapkan dapat menjadi pengalaman berharga yang terus diingat oleh para siswa. (EMC-Fauzan)