
Yogyakarta — Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kemampuan orang tua dalam membentuk keluarga yang harmonis, SDIT Luqman Al-Hakim Yogyakarta mengadakan kegiatan parenting bertajuk “Agar Keluarga Laksana Surga yang Dirindukan”. Acara ini diselenggarakan pada Ahad, 5 Oktober 2025, bertempat di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan dihadiri oleh lebih dari 400 orang tua wali murid serta anak-anak.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber nasional, Ustadz Bendri Jaisyurrahman, seorang konselor keluarga dan aktivis parenting Islami yang telah banyak memberikan inspirasi dalam membangun komunikasi sehat dalam rumah tangga.

“Keluarga adalah tempat pertama kita belajar mencintai dan dicintai,” ujar Ustadz Bendri dalam pemaparannya.
Keluarga Perlu Desain, Bukan Sekadar Bangunan
Dalam sesi utama, Ustadz Bendri menekankan bahwa rumah tangga perlu memiliki desain yang jelas. Tanpa perencanaan dan tujuan, rumah bisa menjadi tempat yang penuh disfungsi.
Mengutip surat An-Nahl ayat 80, beliau menjelaskan bahwa rumah seharusnya menjadi tempat yang memberikan ketenangan dan kenyamanan. Selain sebagai tempat tinggal, rumah juga harus berfungsi sebagai madrasah, tempat pendidikan yang intensif bagi anak-anak. Salah satu masalah besar dalam keluarga masa kini adalah disconnection—bersama secara fisik namun tidak terhubung secara emosional.
“Kafe tidak menjual kopi, tapi menjual hal yang hilang dari rumah: kebersamaan,” tuturnya.
Empat Tipe Keluarga yang Perlu Diwaspadai
Dalam sesi interaktif, Ustadz Bendri memaparkan empat tipe keluarga yang rentan mengalami disfungsi karena minimnya komunikasi:
- Keluarga Terminal – Hanya bertemu sebentar dan berbicara sebatas basa-basi.
- Keluarga Kuburan – Suasana kaku dan minim respons, seperti berbicara dengan batu nisan.
- Keluarga Rumah Sakit – Saling mengungkit jasa dan merasa paling berjasa.
- Keluarga Pabrik – Setiap anggota hanya fokus pada tugas masing-masing tanpa peduli urusan keluarga lainnya.
Menuju Rumah yang Terkoneksi: Keluarga Laksana Surga
Ustadz Bendri menjelaskan bahwa rumah yang ideal adalah rumah yang “terkoneksi”, seperti gambaran kehidupan di surga. Dalam surah Ash-Shaffat disebutkan bahwa penduduk surga duduk berhadap-hadapan dan berbincang santai.Salah satu cara membangun koneksi adalah dengan membiasakan makan bersama. Meja makan menjadi tempat interaksi yang hangat jika dilakukan dengan adab yang benar, di antaranya:
- Makan menghadap ke hidangan bersama, bukan secara prasmanan.
- Mengambil makanan dari nampan yang sama.
- Saling mencicipi makanan.
- Tanpa gadget atau bacaan di meja makan.
- Saling berbincang (yatahadda) selama makan.
Sayangnya, saat ini banyak anak justru diberi gadget saat makan, yang menghilangkan nilai edukatif dan emosional dalam kebersamaan tersebut.
Rumah Penuh Senyum dan Tawa
Ciri rumah tangga yang harmonis juga terlihat dari kebiasaan tersenyum dan tertawa bersama. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang serius di luar, namun sangat hangat dan ceria di dalam rumah. Beliau sering bercanda dan berlomba dengan anak-anak, bahkan membiarkan mereka menang agar merasa bahagia dan dihargai.
Dalam kegiatan ini, peserta diberikan ruang untuk berdiskusi dan bertanya langsung kepada narasumber. Banyak dari mereka merasa terinspirasi dan termotivasi untuk memperbaiki pola komunikasi dan interaksi dalam keluarga.
“Saya sangat senang bisa mengikuti kegiatan parenting ini. Saya mendapatkan banyak ilmu dan motivasi untuk membangun keluarga yang lebih harmonis,” ujar Lutfi, salah satu peserta.

Dengan diselenggarakannya kegiatan seperti ini, SDIT Luqman Al-Hakim Yogyakarta berharap dapat terus berkontribusi positif dalam mendidik dan membina keluarga yang kokoh secara emosional, spiritual, dan sosial.
Esluha (singkatan dari SDIT Luqman Al-Hakim) berkomitmen untuk menjadikan sekolah sebagai mitra utama orang tua dalam membentuk generasi yang shalih, cerdas, dan bahagia dalam lingkungan keluarga yang harmonis.


